Gadis-gadis yang Manis

Pameran
Gadis-gadis yang Manis

Minggu, 8 Maret 2009 | 07:55 WIB

Oleh Ilham Khoiri

Ketika pasar seni rupa sedang menurun saat ini, CP Foundation menggelar pameran tunggal pelukis China, Qi Zhilong (47), di Galeri Nasional, Jakarta, 3-13 Maret 2009. Belasan lukisan seniman itu mengusung wajah gadis-gadis yang manis, sebagian dalam dandanan seragam ala Mao Tse Tung. Apa pentingnya pameran ini?

Pameran bertajuk ”Back to Sense Perception After Political Pop” itu menampilkan 14 lukisan, rata-rata dibuat pertengahan tahun 1990-an sampai 2000-an. Semua karya itu melukiskan wajah perempuan khas China. Sebagian ditampilkan dalam seragam zaman revolusi (kerap disebut seragam ala Mao Tse Tung); sebagian lagi hadir lebih bebas, seperti potret anak zaman sekarang.

Apa istimewanya lukisan-lukisan ini? Secara teknis, karya Qi Zhilong biasa-biasa saja. Seri wajah itu dilukis dengan pendekatan realis yang bersahaja, tak terlalu rinci, sebagian dengan sapuan samar. Warna coklat-kehijauan yang pucat tampil dominan.

”Teknik realisnya tidak istimewa. Tapi, mungkin ada sesuatu yang lain di balik itu,” begitu kata Chusin Setiadikara, salah pelukis realis andal Indonesia, saat melihat-lihat sebelum pembukaan, Rabu (4/3) malam.

Lantas, kenapa lukisan Qi Zhilong dianggap penting sampai-sampai kurator seni rupa terkemuka, Li Xianting, menyebutnya berkecenderungan ”political pop”? Coba kita amati lebih jauh.

Seri wajah perempuan berseragam Mao itu rata-rata lebih sendu, minim make-up. Meski begitu, mereka tetap memperlihatkan kegembiraan. Ekspresi individu ini kontras dengan seragam zaman revolusi kebudayaan pada masa Mao tahun 1966-1976, yang menandakan zaman gelap.

Bagi kurator Jim Supangkat, lukisan-lukisan Qi Zhilong tak hanya menampilkan kecantikan lokal, tetapi juga mengusung kebebasan individu yang terlarang pada masa revolusi. ”Seragam itu mewakili zaman revolusi yang mengharamkan perempuan tampil cantik. Tapi, dalam lukisan Qi Zhilong, perempuan dengan seragam itu justru tampak cantik dan senang,” katanya.

Pada seri perempuan masa kini, wajah mereka tampil lebih segar, lebih berwarna, dan sebagian dengan make-up kentara. Wajah gadis-gadis itu bersih, manis, seakan belum terkotori keruwetan hidup.

”Mereka itu kelas I dan II sekolah menengah atas, berusia di bawah 20-an tahun. Wajah mereka ini mewakili kesucian, keindahan, kegembiraan, kemudaan,” kata Qi Zhilong.

Agar kesan keindahan lebih kuat, pelukis memermak sebagian anatomi wajah itu. Mata dibuat lebih lebar, hidung dimancungkan, atau kulit dibikin lebih kinclong. ”Jika sudah lebih dewasa, wajah mereka tak suci lagi karena terpengaruh masalah hidup dan pergaulan zaman sekarang,” tambahnya.

Jika dicermati, baik kegembiraan perempuan berseragam ala Moa maupun kesucian gadis pada zaman bebas sekarang itu sama-sama menyiratkan anomali. Kebebasan individu adalah anomali pada zaman revolusi yang menyeragamkan perilaku masyarakat. Demikian pula kemurnian atau kesucian para gadis di tengah zaman yang merayakan kebebasan.

Dua jenis anomali itu mengungkapkan mimpi dan kritik Qi Zhilong pada masyarakatnya. Dilihat dari kacamata ini, karya-karyanya jadi subversif: mengkritik penyeragaman zaman revolusi dan mempertanyakan kebebasan zaman sekarang. Namun, kritik itu halus dan tersimpan di balik pesona gadis-gadis manis.

Politik wajah

Lukisan potret kembali memperoleh posisi istimewa dalam hiruk-pikuk pergerakan seni rupa kontemporer China. Seniman memercayai lagi potret sebagai strategi visual yang efektif untuk mengungkapkan pernyataan atas persoalan sosial-politik. Banyak pelukis China sukses dengan mengandalkan permainan wajah.

Geng Jianyi, salah satunya. Perintis gerakan seni rupa kontemporer China tahun 1980-an itu mengandalkan seri wajah tertawa untuk menyindir politik tertutup Pemerintah China saat itu. Lukisan wajah tertawa menandai keunikan bahasa parodi visual temuan seniman di sana.

Zhang Xiaogang, pelukis papan atas dengan karya berharga selangit, menyajikan potret wajah murung keluarga khas China dengan pipi distempel. Karyanya dianggap berhasil mengulik kenangan pahit atas revolusi kebudayaan yang memisah masyarakat dalam kelompok-kelompok saling bersitegang.

Pelukis Yue Minjun memanfaatkan potret diri tertawa lebar sebagai lukisan yang menghibur sekaligus punya berlapis tafsir. Banyak pengamat menafsirkan tawa berderai-derai itu sebagai strategi untuk menertawakan karut-marut sosial-politik. Tawa itu seperti menelanjangi berbagai ironi politik di China, termasuk tragedi Tiananmen tahun 1989 yang kemudian memicu Deng Xiaoping melancarkan kebijakan politik pintu terbuka.

Satu lagi, pelukis Yang Shaobin, juga menggali berbagai persoalan sosial lewat lukisan wajah-wajah. Raut muka suram, bahkan agak mengerikan, dalam karyanya seperti membuka sisi gelap masyarakat bangsa China yang terpinggirkan dalam proses industrialisasi.

Berbeda dengan keempat pelukis tadi, karya-karya Qi Zhilong lebih lembut. Tak ada pernyataan politik yang serta-merta mencuat dari wajah gadis-gadis manis yang dilukisnya. Namun, bagi orang yang memahami pergeseran sosial di Negeri Tirai Bambu itu, wajah-wajah tersebut membayangkan anomali di tengah sejarah dan arus deras perubahan.

Beri semangat

CP Foundation pernah memamerkan beberapa pelukis papan atas China di Jakarta, seperti Yue Minjun, Fang Lijun, dan Yang Shaobin. Pameran ini termasuk rangkaian pengenalan pelukis-pelukis China ke publik Indonesia. Lebih dari itu, kemunculan Qi Zhilong di tengah situasi pasar seni rupa dunia yang melemah sejak akhir tahun 2008 juga bisa berarti lebih.

”Kami sudah mempersiapkan dan berkomitmen untuk pameran ini sejak 1,5 tahun lalu. Kehadiran Qi Zhilong di sini sekarang justru diharapkan bisa memberi semangat pada kita agar tetap menjaga atmosfer seni rupa meski pasar sedang lesu,” kata Djie Tjianan, Ketua CP Foundation.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: