Mengenali Buah dari Pohonnya

Mengenali Buah dari Pohonnya
Minggu, 1 Maret 2009 | 01:41 WIB

Wicaksono Adi

Dilihat dari sudut pandang sistem, kedudukan, nilai dan harga suatu karya dalam pasar seni rupa akan bergantung pada variabel (tak terbatas) hasil kesepakatan (yang berubah-ubah) dari berbagai elemen utamanya, yakni otoritas dalam art world, seperti museum, galeri, akademi, media massa seni, seniman top, art dealer, balai lelang, kolektor, kritikus, peneliti, sejarawan seni, dan para kurator. Di situ pembentukan berbagai variabel beserta acuan-acuan yang mendasarinya tak dapat dijalankan secara parsial karena setiap elemen tak dapat dilepaskan dari kinerja keseluruhan elemen yang saling terkait dan bekerja secara koheren: jika satu elemen macet, akan mengganggu kinerja keseluruhan sistem, begitu juga sebaliknya.

Ada dua jenis sistem: mekanis dan organis. Pada yang pertama biasanya tak terdapat daya evaluatif yang melekat pada tiap elemen sehingga ketika terjadi kemacetan pada elemen tersebut, koreksi harus dilakukan dari luar, pada yang kedua cenderung terdapat daya evaluatif yang inheren sehingga ketika satu elemen aus atau ngadat, ia akan mengoreksi dan memperbarui dirinya sendiri. Sistem organis lebih mandiri dan self fulfilling prophecy, sementara sistem mekanis akan lebih rapuh terhadap krisis karena prinsip keseluruhan yang bertumpu pada parsialitas.

Jika pada sistem mekanis proses konsumsi seni cenderung berlangsung secara anonim sebagaimana benda-benda industri atau produk massal lainnya, maka pada sistem organis proses tersebut akan bermuara pada personalisasi komoditas karena di situ terdapat tuntutan untuk menyusun berbagai referensi yang relevan dengan konteks perkembangan seni itu sendiri secara khusus maupun yang berkaitan dengan interes sosial-ekonomi secara luas, termasuk kode-kode dan kaidah pertukaran entitas simbolik menuju modal kapital dalam proses reifikasi (pembentukan harga) yang ditentukan oleh berbagai acuan nilai (estetik) yang tak selalu kongruen dengan nilai intrinsiknya.

Pasar referensial

Proses konsumsi pada sistem organis cenderung mengikuti perkembangan persepsi personal terhadap apa yang dikonsumsi ketimbang proses ”sekali pakai lalu buang” sehingga (sengaja atau tidak sengaja) tiap pelaku menjadi bagian penting dari upaya pembentukan konstanta-konstanta umum secara berkesinambungan. Konstanta-konstanta umum sebagai hasil kesepakatan (sementara) itulah yang dijadikan acuan transaksi sekaligus medan pembentukan nilai. Di medan itu tiap elemen akan menyusun referensi yang dapat dibaca oleh elemen lain. Referensi A akan melahirkan referensi B; referensi B melahirkan C, lalu D, dan seterusnya. Artinya, pasar tidak hanya menjadi medan pertukaran barang, melainkan juga pertukaran referensi secara meluas dan tanpa akhir.

Medan pasar seni rupa Indonesia selama ini rupanya lebih mirip sistem mekanis ketimbang organis. Lebih tepatnya, sistem mekanis yang mengarah pada sistem terbuka (yang mestinya justru kompatibel dengan sistem organis). Mekanis dalam arti bahwa proses pertukaran dan konsumsi karya cenderung berlangsung secara anonim (seperti produk industri) dan terbuka dalam arti di medan itu tak terdapat konstanta-konstanta nyata dan hubungan invarian dari berbagai acuan yang membentuk konstanta-konstanta tersebut dengan cara yang tidak dapat ditentukan secara pasti. Pasar sebagai medan pertukaran referensi sering tak ada kaitan (bahkan kadang bertentangan) dengan proses pertukaran barang produksi.

Proses reifikasi dan pertukaran karya seni dalam sistem terbuka semacam itu memang sangat menggairahkan karena tak ada acuan tunggal sehingga semua orang dapat bermain dengan metodenya sendiri. Tetapi, di sisi lain, lantaran tiadanya tautan kuat antara medan pertukaran referensi dan medan transaksi barang tersebut membuat orang sukar membaca proyeksi referensial dari model-model konstanta umum yang ada. Semua menyebar seperti bazar: satu saat riuh oleh hiruk-pikuk transaksi, saat lain (ketika pasar malam itu usai) lapangan menjadi sunyi. Suatu bazar memang riuh oleh timbunan peristiwa transaksi, tetapi timbunan peristiwa tentu berbeda dengan rangkaian peristiwa yang terbentuk dalam kerangka kerja sistemik-organis.

Keragaman acuan

Maka, perlu dilakukan upaya untuk mendorong fenomena bazar tersebut menuju pasar sebagai sistem organis. Tetapi, harus dimulai dari mana? Beberapa orang (Deddy Kusuma, Daniel Komala, Deddy Langgeng, Bre Redana, Vivi Yip, Suzanna Perini, Teguh Ostenrik, dan Pintor Sirait) membuat diskusi kecil di rumah seniman Astari untuk membahas perkara tersebut. Tren menurun pada pasar seni rupa kita akibat imbas krisis finansial global sekarang ini mesti dilihat melalui prinsip sibernetik paling sederhana: ketika air mendidih dalam ketel, maka katup ”buka-tutup” dalam ketel itu akan bekerja mengatur volume uap air, mirip katup pada penampungan yang otomatis menutup oleh tekanan volume air sehingga mencapai titik keseimbangan yang normal dan aman. Jika katup ngadat, ketel akan meledak dan buyarlah semuanya.

Pada masa tenang ini semua hal dapat dilihat secara lebih jernih, termasuk kaitan antara medan pertukaran referensi (”wacana”) dan medan transaksi barang. Meski pasar menurun, toh di sana-sini terus muncul berbagai event penting, baik di medan ”privat” (galeri dan balai lelang) maupun ”publik” dan ”komunitas” di mana seni rupa mewujud sebagai peristiwa (dan bukan benda) sehingga mustahil dikomodifikasi secara konvensional. Di situ terlibat banyak seniman (baru) yang mencoba berbagai hal beserta acuan-acuan yang kian rumit dan spesifik. Satu perkembangan dalam lingkaran tertentu kadang hanya dapat dipahami melalui acuan-acuan yang ada dalam lingkaran tersebut.

Tentu dibutuhkan lebih banyak ragam referensi berkualitas guna memahami konteks dari berbagai perkembangan tersebut, dari yang paling sederhana hingga kajian komprehensif yang dapat mendedah konteks estetik dan historisnya—termasuk membuka akses pemahaman terhadap hubungan antara gejala kontemporerisme dan basis kultural-tradisional, misalnya. ”Tiap kolektor (baru) pertanyaannya sama: siapa seniman A ini, bagaimana menilai karyanya dalam konteks perkembangan terkini,” ungkap Daniel Komala. ”Jadi, memang dibutuhkan referensi yang adekuat, baik untuk mereka yang hendak belajar maupun yang sudah ahli,” tambahnya.

Informasi dan wacana semacam itu memang belum banyak tersedia. Oleh karena itu, harus diproduksi lebih banyak acuan berkualitas dalam bentuk yang beragam, mulai dari yang paling dasar dan sederhana hingga paling canggih dan spesifik, sekaligus menciptakan modus mediasi yang meluas (sesuai dengan bentuk-bentuk acuan tersebut) agar lebih mudah diakses oleh siapa pun.

Kolektor Deddy Kusuma merekomendasikan dibentuknya semacam institusi untuk menjalankan program tersebut, terutama untuk menggalakkan kajian dan penelitian seni rupa, mendorong para kritikus, kurator, dan penulis agar lebih produktif. Tentu, institusi itu bukan badan tunggal dan baku, tetapi sejenis jaringan (kolaborasi berbagai lembaga seni-budaya) yang bergerak dalam spektrum yang luas sehingga dengan sekali ”klik” siapa pun bisa mendapatkan berbagai informasi akurat yang dapat dipakai untuk membaca peta seni rupa kita maupun untuk menyusun referensi otoritatif guna mematangkan konstanta-konstanta atau ukuran umum yang menentukan nilai karya.

Dan pematangan ukuran itu hanya dapat terjadi melalui penyerapan secara intensif dari berbagai referensi adekuat tersebut sehingga tiap pelaku dapat berpijak pada dua sisi sekaligus: di medan pertukaran referensi dan medan transaksi barang produksi. Suatu proses di mana ”wacana” tak lagi diproduksi dan dimediasi secara parsial, lalu dikonsumsi dan dipahami secara mekanis-instrumental ”sekali pakai lalu buang”, melainkan sebagai substansi yang akan bermuara pada proses pemahaman seni rupa melalui pengayaan referensi si pelaku sebagai subyek otonom yang mandiri. Itulah proses personalisasi seni yang berbeda dengan produk industri massal. Seni dan knowledge yang membentuknya adalah organisme hidup yang berkembang bersama proses pematangan persepsi (dan mental) tiap orang yang terlibat di dalamnya.

Tentu, langkah awal untuk menuju ke sana adalah dengan menata segala yang terserak dalam bazar seni rupa kita yang riuh itu. Penyair Muhammad Iqbal, salah seorang bapak bangsa Pakistan, pernah berkata: ”Karena Tuhan telah menciptakan hutan, tugas kita adalah menatanya menjadi taman”. Di taman itu kita akan memetik buah seni dari pohon pengetahuan yang subur lalu memakannya sebagai asupan bergizi hingga kita tumbuh menjadi subyek yang utuh, dan bukannya sebagai sekrup dari sebuah mesin yang anonim dan impersonal.

Wicaksono Adi, Kritikus Seni Rupa

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/01/01411383/mengenali.buah.dari.pohonnya)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: