Di Balik Ritsleting Mella

Di Balik Ritsleting Mella

Mella Jaarsma menampilkan pameran unik di ruang tamu rumah kurator Aminudin T.H. Siregar. Pameran yang mengajak partisipasi pengunjung.

Rumah seni S.14, Jalan Sosio­logi 14, Cigadung, Bandung. Dua dinding di ruang tamu rumah dosen Universitas Pa­dja­djaran itu tertutup hamparan ritsleting. Ritsleting merah dan putih,­ dijahit-dilekatkan satu-sama lain, membentuk anyaman, dengan komposisi­ merah-putih berselang-se­ling. Pada sa­tu dinding, tumpukan ritsleting membentuk tonjolan yang kemungkinan besar menggambarkan bentuk penis. Pada dinding lainnya ritsleting itu membentuk bra.

Dalam pembukaan pada 8 Februari lalu, seorang laki-laki disuruh menye­li­nap di antara ritsleting yang menguntai bra. Pengunjung laki-laki yang membuka ritsleting terkejut lalu tertawa. Harapannya untuk melihat dada wanita tak kesampaian, karena yang bersembunyi di balik ”bra” itu ternyata pria. Demikian pula halnya pengunjung wanita­ yang berharap melihat penis. Ia menjumpai sosok wanita. ”Aku coba publik berani untuk buka ritsleting orang lain,” kata Mella Jaarsma, 49 tahun.

Inilah instalasi terbaru seniman asal Belanda yang telah menetap dan berkarya di Yogyakarta sejak 1984 itu. Karya ini menekankan interaksi dengan pengunjung. ”Aku selalu mencoba bermain dengan situasi nyata. Ini langkah lebih jauh dari lukisan,” ujarnya. Lebih dari sekadar permainan, Mella juga ingin menunjukkan sebuah masalah serius dalam dunia mode sekarang: makin kaburnya batas yang membedakan gaya fashion pria dan wanita. Laki-laki feminin dan perempuan maskulin sudah jamak kini. Istilah metroseksual pun muncul.

Pameran berjudul Zipper Zone, Master of Your Domain yang digelar pada 1-22 Februari di ruang tamu kediam­an pasangan kurator seni Aminudin T.H. Siregar dan Herra Pahlasari itu tak berhenti sampai di permainan ritsleting yang mengejutkan itu. Cobalah buka ritsleting lain. Beragam potret manusia dan kegiatannya di sejumlah pen­juru dunia hasil jepretan kamera Mella Jaarsma bakal tersibak.

Sepintas tidak ada yang istimewa dari foto-foto itu. Namun, jika disimak, semua foto itu memiliki kesamaan. Selalu ada warna merah, putih, atau kombinasi keduanya. Lihatlah ada foto tenda tim palang merah, penjual buah merah di tanah Papua, deretan lilin merah orang Cina yang tengah berdoa, selendang merah-putih melilit pinggang seorang perempuan Papua, dan batu pinggir­an trotoar bercat merah-putih di Burma yang dilintasi seorang biksu.

Mella mengatakan, fakta itu baru ia sadari setelah membongkar seluruh file fotonya di komputer. Kedua warna itu ternyata secara tak sengaja selalu ada pada obyek jepretannya.

Sebenarnya tak mudah melihat foto-foto itu secara leluasa. Tiga sampai empat ritsleting harus dibuka dulu sebelum jari tangan bekerja lagi melebarkan kain ritsleting. Butuh kesabaran dan tenaga lebih jika pengunjung penasaran ingin melihat seluruh gambar di balik sepasang jalinan ritsleting. Dan itu agaknya disengaja oleh Mella. Ia ingin merefleksikan situasi yang sering di­hadapi oleh kaum urban sekarang. Kita kini, menurut dia, hidup dalam kondisi dengan gambar, suara, dan pesan yang kerap datang bersamaan sehingga kita pun bingung memilih. Maka, menurut pendiri Rumah Seni Cemeti itu, informasi harus dipilah-pilih menurut kebutuhan. Orang harus menjadi tuan atas dirinya sendiri. Di Zipper Zone ini, Mella berpesan agar pengunjung bela­jar dan berhati-hati memperlakukan informasi. Bukalah satu, dua ­ritsleting, jika hal itu menarik Anda teruslah buka. Jika Anda anggap tak menarik, tutuplah segera ritsleting dan tak perlu membuka seluruhnya agar tidak lelah.

Menurut Asmudjo Jono Irianto, dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Insti­tut Teknologi Bandung, partisipasi pe­ngunjung adalah ciri khas Mella. Di Aus­tralia, Mella, misalnya, mengajak pengunjung makan katak dan beberapa hewan eksotis lainnya sebagai bagian dari pameran. Di Biennale Yogyakarta tahun lalu, Mella juga mengajak pe­ngunjung mencoba koteka di sebuah ruang.

Karya Mella, kata Asmudjo, sangat berbau sosial dan politik. Warna merah-putih dalam Zipper Zone itu, misalnya. Mella, menurut dia, kuat pada pemakaian bahan yang tidak umum. Misalnya, dalam pameran sebelumnya ia memakai kulit katak dan kulit ce­ker ayam. ”Persoalannya reaksi orang di sini untuk berpartisipasi masih kurang dibandingkan dengan publik di luar negeri,” kata Asmudjo.

Beberapa karya instalasi Mella, menurut Asmudjo, sebenarnya layak di­koleksi. Sayangnya, kolektor Indonesia belum secanggih itu. ”Mereka masih memilih lukisan,” katanya. Dalam Zipper Zone, Mella sesungguhnya juga memamerkan sembilan drawing dengan cat air di atas kertas ukuran folio. Karya seri sepulangnya dari Papua tahun lalu itu sebagian besar berfigur orang dengan koteka dengan ujung terikat bendera-bendera.

Menurut Mella, kotekanya ingin menggugat Indonesia yang selalu dilihat sebagai Jawa. Juga ia ingin me­nyindir Undang-Undang Pornografi. ”Kalau kita lihat Aceh tertutup, Papua terbuka, kita harus terima itu semua. Kita di tengah, kenapa kita harus bikin peraturan untuk semua orang di negara ini,” katanya.

Untuk membuat Zipper Zone, ritsle­ting merah dan putih sepanjang satu kilometer dijahit Mella dan pembantunya selama dua minggu. Agar dapat dibuka tutup, dibutuhkan sedikitnya 1.800 bandul yang dipasang seorang ahli risleting di Yogya. Setelah di Bandung, karya itu rencananya juga akan dipamerkan di Korea pada Agustus mendatang setelah diminta kurator.

Anwar Siswadi (Bandung)

(diunduh dari http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/02/23/SR/mbm.20090223.SR129556.id.html)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: