Menuju Peta Baru Asia Tenggara

Menuju Peta Baru Asia Tenggara

KOMPAS/ARBAIN RAMBEY / Kompas Images
Akuarium besar berjudul Incursion 43:38:36.19N/79:25:19.89W karya Craig Walsh (seniman Australia) di Entertainment District, West Mall Lantai 3A di Grand Indonesia, Jakarta. Karya di pusat perbelanjaan ini merupakan rangkaian dari Jakarta Biennale 2009.

Minggu, 8 Februari 2009 | 00:55 WIB

Ilham Khoiri

Puncak Jakarta Biennale XIII 2009 digelar di Galeri Nasional dan di Grand Indonesia Shopping Town, Jakarta, 6-27 Februari ini. Mengambil tema ”Zona Cair”, pameran yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta ini berusaha menyuguhkan peta baru praktik seni rupa kontemporer Asia Tenggara.

Pameran ”Zona Cair” sebagai rangkaian akhir dari Jakarta Biennale (JB) 2009 diresmikan Asisten Kesejahteraan Masyarakat Pemprov DKI Jakarta Effendi Anas di Galeri Nasional, Jumat (6/2) malam. Pembukaan cukup meriah. Biennale menampilkan para seniman muda (di bawah 40 tahun) dari Indonesia serta sejumlah seniman mancanegara yang pernah tinggal dan bekerja di Asia Tenggara.

Para seniman itu menyajikan berbagai bentuk karya media baru, seperti instalasi, art object, video, fotografi, atau performance art. Turut tampil dari Indonesia, antara lain Kuswidananto aka Jompet, Titin Wulia, Wiyoga Muhardanto, Eko Nugroho, Rudi Mantofani, Iswanto Hartono, dan Reza Afisina. Dari mancanegara, ada Craig Walsh (Australia), Donna Ong (Singapura), Hoang Duong Cam (Vietnam), Lyra Garcellano (Filipina), Montri Toesmsombat (Thailand), Phil Collins (Australia), dan Roslisham Ismail (Malaysia).

Bagaimana wujud karya- karya itu? Secara umum, karya-karya itu segar. Modus-modus presentasinya memperlihatkan kemungkinan pendekatan baru dalam berseni rupa, sebagaimana banyak ditampilkan dalam biennale di beberapa negara lain.

Ambil contoh karya Jompet, ”Java, War of Ghost”. Ditempatkan di ruang belakang Galeri Nasional, Jompet menata enam drum dan satu bas drum yang terus ditabuh berderam-deram oleh mesin penggerak. Di belakang setiap drum, berdiri sosok prajurit keraton Jawa tanpa tubuh. Sosoknya hanya diwakili sepatu, topi, dan senapan laras panjang.

Jika diamati, atribut-atribut militer itu mewakili beragam budaya. Sepatu dan senapan dari Eropa, pakaian bergaris tradisional Jawa, dan topi khas Buddha. ”Setelah kalah bertempur fisik pada Perang Diponegoro, keraton Jawa berangsur melakukan perang simbolik lewat peleburan budaya seperti pada seragam prajurit. Ini metode pertahanan unik terhadap serbuan budaya asing,” kata Jompet.

Di Lantai 3A West Mall dan di area lobi Arjuna Grand Indonesia Shopping Town, Craig Walsh memajang akuarium besar berjudul ”Incursion”. Di lantai 3A, akuarium itu mengambil tempat di ruang restoran kosong berukuran sekitar 6 x 6 meter. Di lobi, akuarium ditempelkan pada dinding, dekat lalu lalang pengunjung.

Akuarium itu menampakkan meja dan kursi yang melayang dalam air, seperti restoran tenggelam. Ikan-ikan besar berenang dengan santai. Pemandangan ini segera menyedot perhatian pengunjung yang melintas.

Bisa saja mereka terkecoh oleh akuarium raksasa hasil proyeksi dari video ke kaca itu. ”Ini kejutan di tengah arsitektur mal dan suasana belanja yang hiruk-pikuk,” kata Craig Walsh.

Di luar dua karya itu, ada sejumlah karya lain yang tak kalah menggelitik. Ada miniatur kanal Kota Batavia zaman kolonial (karya Iswanto), gitar-gitar dengan leher yang ditekuk (karya Rudi Mantofani), mobil yang bernapas (Wiyoga), video anak-anak muda bernyanyi bebas (Phil Collins), atau rangkaian kumpulan stiker bisnis ilegal di Malaysia (Roslisham).

Kurator Agung Hujatnikajennong mencatat, karya-karya itu mewakili gelombang seni rupa paling mutakhir (pascatahun 2000-an) di Asia Tenggara. Kawasan ini dianggap unik karena punya keberagaman dan hibriditas masyarakat yang diwarnai persentuhan, pertukaran, dan interaksi budaya. ”Ini pemetaan baru wilayah Asia Tenggara,” kata Agung.

Buka kemungkinan

Pameran ”Zona Cair” merupakan rangkaian akhir dari kegiatan JB 2009. Sebelumnya, telah digelar bermacam kegiatan dalam ”Zona Pemahaman” dan ”Zona Pertarungan”. Dua zona itu lebih menampilkan karya-karya seni rupa publik yang melibatkan masyarakat di Kota Jakarta, dengan tujuan membuka gagasan dan ruang baru bagi publik.

Ketiga zona dirangkum dalam konsep ”Arena” yang berusaha mencari relevansi seni rupa di kota zaman sekarang. ”Biennale ingin melakukan intervensi untuk penyadaran dan penguatan kepentingan publik. Itu penting di tengah perkembangan kota yang makin diancam lemahnya negara, gempuran pasar, dan sektarianisme,” kata Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta Marco Kusumawijaya.

Pengamat seni rupa, Enin Supriyanto, menilai JB 2009 berhasil memaksimalkan potensi dan kemungkinan sebuah biennale di Jakarta di antara keterbatasan infrastruktur yang ada. Karya-karya yang ditampilkan berusaha membuka berbagai kemungkinan konsep, prosedur, metode, sampai presentasi karya seni rupa yang baru. Banyak karya yang digarap dengan proses panjang dan makin mementingkan interaksi dengan publik.

”Biennale ini sudah lebih dari cukup sebagai satu model pameran terkini di Jakarta. Ini bisa jadi batu loncatan untuk mencari format kegiatan seni rupa berikutnya,” katanya.

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/08/00555344/menuju.peta.baru.asia.tenggara)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: