Membongkar Blokade

Membongkar Blokade

Minggu, 8 Februari 2009 | 01:08 WIB

Wicaksono Adi

Gejala paling menarik dalam perkembangan seni rupa Indonesia dua puluh tahun terakhir adalah perluasan ”bobot kehadiran” seni visual dari disiplin ”seni murni” yang terbatas menuju seni serba media sebagai rangkuman segala yang tak beraturan dan kadang tak terurai namun dapat disentuh sebagai kesatuan mandiri maupun dalam hubungannya dengan bentuk-bentuk representasi serupa di sekitarnya.

Sebelumnya, pada 1980-an di bidang teater sudah muncul gejala pergeseran ”bobot kehadiran” pementasan yang tak lagi bertumpu pada ”cerita” dan manusia sebagai sosok (karakter) utuh, melainkan pada rangkaian peristiwa, komposisi ruang, dan permainan visual. Dalam susunan ruang dan bangunan visual tersebut berserakan peristiwa acak mirip fragmen-fragmen yang seolah tak memiliki struktur utuh. Dari peristiwa yang satu melompat ke peristiwa lain tanpa urutan yang jelas. Kadang di antara berbagai peristiwa tersebut tak terdapat kaitan sama sekali: yang absurd, kontradiktif, paradoksal, anatagonistik, teraduk dengan ikon-ikon pop, kebrutalan dunia impersonal akibat politik, kapitalisme, fundamentalisme agama, anarki, dan omong kosong sekaligus. Dan pada 1990-an mulai muncul karya sastra (cerpen dan novel) yang tak melulu bertumpu pada ”cerita” utuh-bulat melainkan teks yang mengajak pembaca untuk menikmati kalimat-kalimat dan susunan imajerinya.

Seni jadi semacam pantulan dari realitas yang kadang bergerak menuju titik tertentu kadang menyebar dan saling bertentangan. Dan karena mustahil merangkum seluruh dimensi realitas semacam itu dalam representasi tunggal, maka perwujudan seni akan berada dalam pusaran dimensi-dimensi yang bertolak belakang atau saling sejajar dalam garis tegangan pada momen dan sekuen tertentu dengan pola yang tak dapat ditentukan.

Hal itu merupakan cerminan dari pengalaman bangsa (berkembang) yang menerima modernitas sebagai entitas yang hadir tak secara utuh dan selesai, melainkan suatu proses yang seakan tanpa desain dan saling berkelindan dengan berbagai kekuatan tradisional. Suatu proses yang tidak berlangsung secara linier melainkan cenderung simultan: saling menyerap, dan saling menolak untuk menemukan titik ikat, satu saat surut ke belakang pada saat lain melompat ke depan lalu mencair dan menemukan ikatan tertentu untuk sementara waktu, kadang stabil kadang mengambang dan menguap tanpa bekas. Suatu proses yang mengelak dari prospek tunggal.

Sebagai manusia ”tradisional”, seniman Indonesia dapat merengkuh berbagai dimensi paling nyata dari modernitas, tapi pada saat yang sama tak dapat menyangkal bahwa dirinya tersusun dari darah dan daging tradisi yang juga tak lagi tampil secara utuh. Silang sengkarut itu adalah ”berkah kultural” sekaligus inspirasi tiada habis yang tak dimiliki oleh seniman ”Barat”. Sebagian besar seniman (Bandung) beruntung karena dapat bersikap rileks dalam menangani keterbelahan dalam garis silang- tegangan semacam itu. Dan seniman (Jogja) lebih beruntung lagi karena sebagian besar memiliki ladang ”agraris”, plus berkah pasar yang mendatangkan duit berlimpah.

Harus diakui, saat ini seniman Jogja sangat dominan dalam peta seni rupa Indonesia. Mereka mengusung tema yang beragam, dari ihwal wayang, mistik, politik, budaya massa, hingga perayaan fleksibilitas spasio-temporal yang fantastik bersamaan dengan kian terbukanya media cyber dunia digital dan kemajuan teknologi audio-visual yang menakjubkan itu. Mereka hidup di ”kampung” besar yang cenderung komunal.

Akar kehidupan komunal-tradisional itulah modal besar mereka. Gaya sampakan Teater Gandrik dengan kecerdasan yang menakjubkan ketika mencemooh keangkuhan kekuasaan dan segala ihwal yang dimutlakkan hanya dapat muncul dari kelenturan bahasa dalam kehidupan sehari-hari para anggotanya yang komunal itu. Mereka memiliki ”kecerdasan linguistik” (gaya Jogja) yang tak dimiliki seniman di tempat lain. Kecerdasan serupa juga dimiliki sebagian besar perupa Jogja. Mereka dapat melihat berbagai hal dalam dimensi-dimensinya yang unik dan mengejutkan. Tapi akhir-akhir ini tampak kecerdasan itu mulai tumpul, ide-ide liar mereka mulai mbleret. Sebagian bahkan cenderung jadi anak manis, jinak, dan tertib.

Ada dua kemungkinan: mereka mulai tergulung oleh silang sengkarut ”berkah kultural” tersebut, atau tak mampu mengembangkan ”kecerdasan lokal”-nya. Silang sengkarut ”berkah kultural” dalam tata yang terus mengelak dari kerangka paradigmatik yang mereka miliki—karena kerangka itu akan terus bergeser dan tak terangkum—berkerumuk jadi daya-daya impersonal yang dapat merontokkan keunikan daya-daya personal asali. Pada saat yang sama mereka dipaksa terus berkarya guna terlibat dalam berbagai pameran dan persaingan keras antarseniman hingga tak tersedia cukup ruang untuk melakukan refleksi kritis atas kekuatan impersonal yang siap menggilas tersebut.

Situasinya jadi lebih runyam ketika mereka kurang mengembangkan ”local knowledge” yang jadi modal besarnya. Seniman yang tumbuh dalam dunia ”agraris” Jawa (dan akrab dengan dunia wayang, mistik, dan roh-roh misalnya) tak perlu jauh-jauh mencari konsep ini-itu sampai ke negeri Joseph Beuys atau Anselm Kiefer. Mereka sudah memiliki tema-tema ”agraris” sebagai ”pengalaman kultural” yang tak tergantikan oleh apa pun. Tiap seniman memang perlu mengenal berbagai pemikiran berat dan lagi ngetren, tapi yang lebih penting adalah mempelajari segala ihwal yang berkaitan dengan ”lumbung kultural” terdekatnya. Tapi rupanya tak banyak yang sungguh-sungguh mendalami dan mengembangkan ”local knowledge” semacam itu sehingga ”lumbung kultural” itu—wayang misalnya—hanya diambil bentuk-bentuk fisik visualnya belaka. Ia dicomot bagian-bagian luarnya untuk dicangkokkan dengan unsur-unsur visual dari tempat lain. Khazanah tradisional itu tak dikembangkan sebagai ”paradigma” estetik tapi sebatas ornamen.

Tak banyak perupa yang membuat proyek seperti Teater Garasi ketika menggarap karya Waktu Batu (selama tiga tahun lebih), dengan riset panjang perihal konsep waktu di Jawa (Tengah) masa silam dari berbagai literatur dan penelitian di areal Candi Baka, dekat Prambanan. Tak terdengar kabar para perupa keliling dunia (atas kemauan sendiri dan bukan karena undangan), keluar-masuk museum terkemuka guna memperluas pengetahuan, atau bergentayangan di pedalaman Kalimantan, Sumatera, dan Papua untuk menyaksikan langsung hutan yang lumat itu atau berbagai wilayah negeri ini yang dirajam luka sejarah. Padahal sebagian perupa punya uang untuk melakukan hal itu.

Benar kata Yuswantoro Adi (Kompas, 18 Januari 2009) bahwa mbentoyong (ambisius) dalam berkesenian itu perlu, tapi secara tak langsung ia juga menunjukkan bahwa sebagian besar perupa (Jogja) memahami ke-agraris-an sebatas eksotisme belaka. Mungkin mereka sudah puas dengan bakat alam (yang luar biasa itu) dan ninabobo pasar yang sanggup menelan apa saja. (Mestinya pasar semacam itu sangat bermanfaat karena segila dan se-edan apa pun karya akan tetap ditelan). Tapi rupanya tak banyak perupa yang berani benar-benar ngedan lalu berkata: ”Lihatlah, aku bebas. Kuumbar ide-ide liarku jadi karya segila-gilanya. Karena gue sudah punya duit, maka suka-suka gue, dong. Elo mau apa?”

Ya, keberanian, pengetahuan, dan integritas itu memang mahal. DH Lawrence pernah berkata: ”Bahkan dibutuhkan modal untuk membangun moral”. Dan modal itu sudah di tangan. Tapi sayang mereka kurang menyadari kekuatan besar itu. Sementara di sisi lain, sikap rileks sebagian besar perupa Bandung telah membuat mereka kehilangan ”ambisi” alias kurang mbentoyong sehingga ”berkah kultural” itu ditangani secara main-main pula. Risikonya sama: sikap terhadap seni sebagai ornamen, bukan ”paradigma”.

Dua jenis sikap itu sama-sama potensial jadi blokade yang diam-diam menghipnotis hingga mereka secara sukarela (bahkan kadang sukacita) tersekap, tergiling, dan takluk oleh berbagai silang sengkarut daya-daya impersonal yang mengepung dari segala jurusan.

Tentu, kemungkinan tersebut dapat terjadi pada perupa Indonesia di mana pun.

Wicaksono Adi, kritikus seni

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/08/01083193/membongkar.blokade)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: