PAMERAN VOX POPULI

PAMERAN VOX POPULI
Moralitas Perupa untuk Mengkritik dan

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG / Kompas Images
Pengunjung melintas di depan lukisan Republican Favourite Series (3) karya Erik Pauhrizi yang ikut dipamerkan bersama karya beberapa pelukis di pameran Vox Populi di Bentara Budaya Jakarta, Selasa (3/2). Pameran berlangsung hingga 12 Februari 2009.

Rabu, 4 Februari 2009 | 00:56 WIB

Apa yang menarik pada lukisan Ipong Purnama Sidhi berjudul Hello! Hooray! Are You Ready? (3 panel, 200 x 360 cm) sehingga pengunjung senyum-senyum saat mematut-matut agak lama lukisan dengan warna yang begitu meriah itu? Ada tiga ekspresi badut yang setidaknya menyimbolkan bahwa negara ini begitu banyak badut politik atau politikus yang tak ubahnya bagai badut.

Pada pameran lukisan bertajuk ”Vox Populi” yang digelar di Bentara Budaya Jakarta dan dibuka pencinta seni dan kolektor Budi S Pranoto, Selasa (3/2) malam, Ipong pada karyanya yang lain berjudul Republik Mabuk (200 x 200 cm) dan Invisible- Visible (200 x 200 cm) juga rada-rada mengkritik.

Tak hanya Ipong, pelukis AS Kurnia melalui karyanya berjudul ”Partai Cuci Mulut” (110 x 135 cm) dengan tanda gambar pisang warna kuning berlatar putih dan Partai Kaki Tangan (135 x 110 xm) dengan tanda gambar kaki—warna hitam dan tangan dalam bentuk persegi—warna kuning, dengan latar kuning, misalnya, juga sebuah gambaran kritik yang juga pedas.

Perupa Hari Budiono dengan karya berjudul Caleg Partai Sendok (150 x 220 cm) menampilkan gambaran yang ironistis, sosok caleg yang begitu sejahtera (digambarkan dengan sosok yang gemuk), tetapi tidak ubahnya seperti kanak-kanak (sosok bercelana kolor). Atau mungkin juga sebuah fenomena, banyak caleg yang lalu gagal, terbelit utang, lalu menderita sakit jiwa.

Perupa Hanafi, Ivan Haryanto, Nasirun, Tisna Sandjaya, dan Wayan Kun Adnyana dengan caranya masing-masing juga mengkritisi situasi dan kondisi politik pada Pemilu 2009.

Wayan Kun Adnyana ketika ditanya konsep lukisannya mengatakan, ”Semua caleg minta ia dipilih, tetapi ia tidak tahu siapa yang akan memilihnya. Massa rakyat jelata bisa memilih kalau sudah jelas (muka) orangnya. Begitu juga sebaliknya, si caleg juga seharusnya mengetahui siapa massanya. Massa yang banyak belum jaminan.” Salah satu lukisan Kun Adnyana berjudul Orasi Tanpa Muka (160 x 140 cm).

Kurator pameran Tubagus P Svarajati mengatakan, posisi, peran, sikap, atau cara pandang seniman atas fenomena kehidupan politik tak jarang mengundang perbincangan hangat. Cara pandang seperti ini antara lain dilatari oleh pendapat bahwa posisi seniman adalah unik.

”Suara seniman mengandung aspek moralitas. Apa-apa yang disuarakannya tak lain adalah hasil ’penerawangan’ panjang dan bijak yang, bisa jadi, ia perikehidupan masa depan yang bakal terjadi,” ujarnya. (NAL)

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/04/00564771/moralitas.perupa.untuk.mengkritik.dan.)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: