Patung Tak Sekadar Mengisi Ruang

Patung Tak Sekadar Mengisi Ruang

Patung-patung yang berkisah tentang hidup.
Koper tua, besi dan rumput, perempuan dan anjing, perempuan dan buku,
dan kayu yang berkisah. Sebuah pameran yang jarang, karya patung untuk
ruang dalam dan ruang luar.

INI hampir bukan sebuah pameran. Seolah-olah taman baru Erasmus Huis, Pusat Kebudayaan Belanda, di Jakarta, memang disiapkan dengan patung tamannya. Belasan patung karya 12 pematung yang berdomisili di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta seolah-olah memang diciptakan untuk mengisi taman tersebut.

Taman Erasmus Huis berbentuk ”L”; pada titik potong dua garis yang membentuk ”L” itu dibangun sebuah amfiteater mini. Di tempat duduk penonton itu duduk seorang perempuan dengan anjingnya yang mendekam damai. Inilah patung kayu karya Abdi Setiawan, pematung ISI Yogya yang suka menggambarkan situasi sehari-hari di masyarakat. Judul karya ini Serasa di Pantai. Satu lagi karyanya di pameran bertajuk Spirit Interaksi, 15 Januari—14 Februari, dipasang di dalam ruangan Erasmus Huis, patung polisi dan seorang pemuda. Polisi itu bertanya kepada pemuda itu, kenapa wajahnya lebam. Jawabnya tidak tahu. Ia hanya lewat dan tahu-tahu dituduh maling.

Tampaknya dua karya Abdi ini bisa menjadi penjelasan, kenapa pameran ini dibagi dalam dua tempat: di dalam dan di luar ruangan.

Karya Abdi yang polisi dan pemuda itu dipasang di dalam karena patung ini memerlukan balon dialog seperti dalam komik, dan di dalam ruangan itu mudah diwujudkan: balon dialog itu digambar di dinding. Padahal karya ini sangat cocok dipasang di luar. Soal balon dialog, buat pematung sekaliber Abdi—yang pernah menghadirkan kompleks pelacuran lengkap dengan becaknya (dalam CP Biennale II, 2005, di Jakarta)—tentunya bukan masalah sulit. Ini memberikan kesan, karya-karya yang dipasang di dalam sekadar menemani patung Abdi, sekadar memperbanyak jumlah karya. Serasa tak seimbang, antara karya di dalam dan di luar ruang.

Mungkin, dua kali pertemuan peserta pameran yang dikoordinasi oleh Dolorosa Sinaga, kurator pameran ini, di taman tersebut membuat para peserta mementingkan karya untuk yang dipasang di taman. Sangat pas karya Amalia Radjab. Ia seolah memang merespons gapura taman yang menjulang. Di antara dua pilar gapura, Amalia memasang sesosok perempuan melayang turun dengan kain yang melambai. Situasi, karya patung ini, dan judulnya memang serasi—Back to the Ground, judul karya ini. Karya ini serasa menegaskan bahwa penggarapan ruang taman menjadi prioritas.

Dan kalau saya kemudian lebih menikmati kenyamanan taman ini, melewati Back to the Ground begitu saja, karya ini tampaknya memang digarap lebih sebagai ”pengisi” gapura daripada karya pembawa gagasan, ekspresi, atau apa pun pada patung itu sendiri.

Tapi itu tak mengapa bila yang dipentingkan sang kurator adalah semangat interaksi, sebagaimana tajuk pameran ini. Masalahnya, sejumlah karya yang lain serasa lebih daripada sekadar menginteraksi ruang taman. Serasa di Pantai itu, misalnya, bukan sekadar hiasan taman. Karya ini menyuguhkan sepotong kisah hidup dua makhluk. Patung perempuan duduk dengan tenteram itu seperti menyimpan satu pengalaman hidup yang panjang. Ada jejak penciptanya pada bentuk sosok ini, juga pada sosok anjing. Patung ini berdialog dengan ruang, bukan berhenti menjadi hiasan.

Seperti itu jugalah Long Journey Hardiman Radjab, pematung koper ini. Koper tuanya—memang hampir selalu koper tua yang ia pamerkan—kontras dengan meja tempat karya itu ditaruh, juga dengan kursi di sekeliling meja. Kontras itu membentuk kisah imajinatif, kisah yang tak terkatakan. Bandingkan, misalnya, dengan Just Cakes karya Hardiman juga, koper juga. Namun sang koper dipotong, dan penampang potongan itu dibentuk seperti penampang potongan kue gulung yang melingkar bak obat nyamuk. Bagi saya karya ini serasa sekadar intermezo dari Hardiman. Just Cakes lebih terasa mengisi ruang daripada berdialog dengan ruang. Enak dilihat, segar terasa, dan kemudian selesai. Jejak itu tak ada di sini, bukan karena judul patung bukan perjalanan panjang seperti koper di meja itu. Mungkin ini masalah ketotalan menggarap. Buat saya koper butut yang membalut kue yang terlihat segar saling meniadakan, menghilangkan kisah.

Ihwal lebih mengisi ruang inilah yang juga bisa dirasakan pada Suwuk, terdiri atas tiga patung yang sama dengan warna beda, menjulang tinggi (menurut keterangan di katalogus, tinggi masing-masing sekitar 3,8 meter). Untuk sebuah tanda dari suatu lokasi, Suwuk mungkin mudah mengundang perhatian, untuk kemudian kita tinggalkan dengan ringan tanpa ada jejak yang terbawa.

Biarpun hanya dengan sepotong jendela hijau dengan kusen yang tinggi, sekitar 3 meter, Budi Santoso mampu menghadirkan rumah imajinatif. Jendela itu bagian dari rumah yang ada dalam imajinasi kita. Dan di kusen melintang jendela itu duduk setengah membungkuk sosok perempuan memegang buku, membaca. Apa pun lingkungannya, saya kira karya Budi ini akan sesuai, menyatu dengan sekitar. Perempuan membaca itu tak akan peduli, apakah jendela ini ditaruh di taman atau di dalam ruang. Kontras perempuan cokelat dan jendela hijau muda membentuk dunianya sendiri, cukup kuat untuk tak terpengaruh lingkungan seperti apa pun: ini bukan sekadar pengisi ruang.

Kesan itu jugalah pada Vertical Awan Simatupang. Ini beberapa kemasan lahan berumput, di tengah besi-besi ditanamkan memberikan imajinasi gedung-gedung. Ini seperti sebuah bonsai dari sebuah kota. Ini sebuah kisah tentang besi-besi vertikal dengan rumput hijau yang meluas horizontal. ”… seolah Awan hendak menyatakan bahwa hidup adalah perihal interaksi antarnilai,” tulis Dolorosa. Dan Anda bisa saja memperoleh kisah tentang banyak hal dari perpaduan besi dan rumput itu, misalnya soal lingkungan hidup dan kerakusan manusia.

Pameran ini termasuk jarang: patung-patung ruang luar. Ruang luar memberikan keleluasaan bahwa apa pun yang dipamerkan akan terasa enak dipandang. Ruang itu memberikan kesempatan untuk hanya diisi, untuk diberi tanda. Selain yang telah disebutkan, Dikotakkan Undang-undang karya Ade Artie termasuk yang mengisi ruang. Mestinya karya yang diilhami oleh Undang-Undang Pornografi ini memberikan lebih daripada sekadar mengisi ruang. Perempuan duduk dengan kepala diletakkan di lutut kaki kanan di sudut jajaran kotak-kotak yang tak sama tinggi, dan di sudut yang berseberangan sebuah palu hakim tergeletak sepi. Hubungan antara dua sudut ini menurut saya kurang membentuk imajinasi, kurang bercerita.

Atau, ruang itu diisi dengan karya yang tak sekadar mengisi ruang, melainkan juga menyentuh, memberikan jejak, memberikan semangat hidup. Karya Awan, Hardiman, Abdi Setiawan, Budi Santoso, terutama, memberikan yang lebih ini. Karya Anusapati, menurut saya, lebih pas yang di ruang dalam. Object #12-nya adalah kisah tentang kayu yang bisa menjelma apa saja, mengungkapkan apa saja yang ada di dalamnya. Seolah Anusapati tak memberikan sentuhan apa pun, melainkan kayu itu membentuk dirinya sendiri.

Tampaknya ruang dalam kurang digarap. Karya-karya di sini—karya A.B. Soetikno, Taufan A.P., Tita Rubi, dan Innes Indraswari—terkesan sebagai ”penggembira”. Keluar dari ruang dalam dan mengunjungi taman Erasmus Huis, tak ada dorongan untuk kembali ke dalam biarpun ada juga karya Abdi dan Anusapati. Rumput dan besi itu, perempuan dan anjing itu, koper tua itu, perempuan dan buku itu, cukup sudah memberikan jejak pada kita, tak ada lagi ruang buat yang lain.

Bambang Bujono, pengamat seni rupa

(diunduh http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/01/26/SR/mbm.20090126.SR129330.id.html

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: