Dari Kepurbaan Nasirun sampai Mimpi Samuel

Dari Kepurbaan Nasirun sampai Mimpi Samuel

G Budi Subanar

Penulisan hasil pembacaan atas seseorang atau sekelompok orang sebenarnya tidak bisa sekali selesai. Apalagi ketika mengundang reaksi pihak lain. Adi Wicaksono telah mengetengahkan pembacaan sosiologis para perupa Bandung dan Yogyakarta, menelusur tempat asal dan gaya hidup mereka (Kompas, 11 Januari 2009). Agaknya ada sejumlah pihak terkena goresan pisau analisis Adi Wicaksono, berasal dari wilayah agraris tampil dengan rambut gondrong, dan keberatan beban memanggul beragam konsep (mbentoyong). Mereka menjadikannya bahan pembicaraan serius. Seorang perupa menganggap tulisan Adi sebagai guyonan Basiyo, dagelan khas Yogyakarta, gerundelan yang menertawakan diri sendiri. Bukankah dia pernah menjadi bagian dari kelompok Yogyakarta dengan rambut gondrong dan mbentoyong pula. Tulisan ini melengkapi pembacaan perupa Yogyakarta berangkat dari event penutupan tahun 2008.

Pak Tjipto Wibakso, pelukis dari tobong wayang wong, meninggalkan lukisan yang belum selesai pada kanvas besar (4 x 2 meter). Goresan Pak Tjip menghadirkan panorama alam gunung berlangit biru dan sungai bergemericik air yang pinggir-pinggirnya ditumbuhi pepohonan perdu hijau. Khas karya-karya pelukis yang banyak dijajakan di trotoar kaki lima di berbagai kota. Karya tersebut direspons Samuel Indratma, diberi tajuk ”Low Art Society”. Apakah tajuk tersebut bermaksud menunjuk pada karya Pak Tjip dengan kekhasan lukisan panorama atau mengungkap keterlibatan Samuel dalam Jogja Mural Forum yang memuralkan Yogyakarta? Hal tersebut dapat didiskusikan tersendiri. Eksekusi akhir ”Low Art Society” menampilkan seorang pria berjenggot membujur di atas sebuah bathtub sambil bergumam. Di sekeliling bathtub itu, sejumlah manusia (pelayan?) yang dengan seluruh tenaganya menopang kenikmatan sang pria berjenggot mandi berendam. Itulah eksekusi akhir hasil kolaborasi Samuel Indratma dan Putu Sutawijaya merespons goresan awal Pak Tjip. Eksekusi akhir ”Low Art Society” menghadirkan kekhasan Putu Sutawijaya dengan figur-figur manusia dalam aktivitas massal mereka. Sekaligus, juga mengungkap kerinduan (mimpi) Samuel yang mau mengatasi determinasi dirinya, warga dari masyarakat agraris tetapi bisa menikmati mandi berendam. Melacak pengalaman personal Samuel, mimpi mandi berendam rupanya punya kisah tersendiri. (Maaf, yang terakhir ini bukan untuk konsumsi publik.)

Yuswantoro Adi menanggapi secara lincah tulisan Adi Wicaksono (Kompas, 18 Januari 2009). Bukan untuk membela diri, tapi lebih melengkapi pembacaan Adi Wicaksono. Salah satu perupa yang disebut Yuswantoro Adi adalah Nasirun. Perupa yang karyanya mendapat nilai tukar tinggi di bursa lukisan. Tapi Nasirun tetap tampil seadanya dengan rambut gondrong dan jenggot dipilin. Pada gelar seni kerakyatan pergantian tahun 2008, karya yang digarap Nasirun khas, sosok dengan sepatu wayang (tapi dimodifikasi jadi sepatu lars cowboy dengan menambahkan gerigi-gerigi di kanan kiri sepatu). Sosok purba yang dihadirkan dengan warna purba: merah, emas (prada, Jawa), dan hitam. Kepurbaan, dari bentuk wayang dan warna-warnanya dipadukan dengan kepurbaan nafsu (manusia) sampai sosoknya menjadi terbongkok-bongkok dan lidahnya menjulur keluar. Bahkan, maaf, alat kelaminnya juga menjulur memanjang. Sekaligus sosok itu didandani dengan aksesori selera masa kini, kacamata dan sepatu lars cowboy. Nasirun tetap Nasirun, tampil purba. Karyanya juga mengalir dari kerpurbaannya, menghadirkan yang serba purba, bentuk, warna, dan nafsu. Kendatipun diberi aksesori barang-barang masa kini. Kepolosan Nasirun mampu menghadirkan kiat holding the global locally, promoting the local (archaic) globally. Dan ini mendapat apresiasi tinggi, tak hanya dari dunia kritik seni, tetapi juga nilai tukarnya dari para kolektor.

Kekayaan warna lokal Yogyakarta masih belum selesai. Di tengah kolaborasi Andre Tanama, Bambang Herras, Budi Ubrux, Hari Budiono, Melodia, Yuswantoro Adi, yang masing-masing memiliki kekhasan dalam tema karya dan goresannya, Ong Hari Wahyu membubuhkan frase ”Doa Ibu” pada bagian paha seorang gadis. Mereka berkolaborasi mengerjakan lukisan dengan model seorang gadis setengah tidur. Sampai lewat tengah malam setelah pergantian tahun, karya bersama tersebut tidak beda dengan lukisan pada bak truk bagian belakang. Seorang gadis setengah tidur dengan tulisan-tulisan ”Doa Ibu”, ”Selalu on Time”, dan lain-lain. Khas lukisan kerakyatan yang banyak ditemui pada kendaraan angkutan umum di sepanjang jalan di Jawa. Dalam pengerjaan selanjutnya, Ong Hari Wahyu menyodorkan konsep (akhir) karya kolaborasi ”Perempuan Menanti Fajar” hadir dalam seorang gadis setengah tertidur bermandikan hujan mawar merah. Dengan latar kuning, gadis yang menyanding perahu-perahu kertas goresan Dyan Anggraini berubah menjadi ”Perempuan Menanti Fajar” yang sangat romantis. Adakah ini mencerminkan kerinduan Ong Hari Wahyu?

Inilah salah satu gambaran dunia perupa Yogyakarta. Potret ini diperoleh dari peristiwa bersama saat melewati pergantian tahun 2008 dalam Gelar Seni Kerakyatan bertajuk ”Seniku Tak Berhenti Lama”. Setelah melewati gelar malam tahun baru, karya-karya yang dihasilkan masih menjalani sentuhan akhir juga dalam kolaborasi sehingga (lebih kurang) layak dipamerkan. Yang mau ditunjukkan di sini, yang diolah para perupa Yogyakarta, tak sebatas pengalaman keseharian dalam berinteraksi dengan rupa-rupa benda fisik. Benda-benda fisik sebagai bagian dari pengalaman hidup atau aksesori yang menandai seseorang tak ketinggalan zaman, seperti kacamata dan sepatu lars, dilebur dijadikan satu bagian. Yang dominan tampil sebenarnya justru ”dunia dalam” dari pengalaman pribadi yang terus dihidupi. Mimpi, kerinduan, dan rasa romantis ditampilkan tidak dengan cara picisan atau bergenit ria. Dunia dalam dari pribadi para perupa dieksplorasi bersama dan dileburkan dalam pengalaman sosial. Memang ada juga yang ditampilkan dalam bentuk dan warna purbanya. Para perupa, mereka tak terasing dengan dirinya, tak terasing dari masyarakatnya, dan tidak terpukau atau dikuasai alam benda yang tak lebih dari aksesori, pernik-pernik sekadar benda pelengkap. Pengalaman estetisnya dijelmakan dalam karyanya.***

G Budi Subanar, Pengajar pada Program Magister Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

(diunduh dari Kompas Cetak Minggu, 1 Februari 2009 | 01:07 WIB)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: