Ambiguitas Area dan Arena

Ambiguitas Area dan Arena

DENI SEPTIYANTO / Kompas Images
Proses pemotretan para fotografer di Monumen Nasional (Monas) Jakarta oleh Daniel Kampua di Monumen Nasional pada 16 Januari 2009. Dalam Jakarta Biennale XIII – 2009 ini, para fotografer Monas yang biasanya memotret, kali ini dipotret, dan karyanya dipamerkan di kawasan tersebut.


Jakarta menjadi sulit untuk tidak dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir. Banyak yang terjadi dan berubah dengan cepat. Semua hal dijatahkan menuju segala pertumbuhan dan produktivitas; masyarakat mengidentifikasi diri sebagai mesin. Seluruh kehidupan urban didominasi oleh ruang-ruang industri, komersial, dan tentu saja ruang-ruang yang dikuasai agen kuasa (politik). Di Jakarta, ada 1.127 kendaraan baru setiap hari. Pusat perbelanjaan di Jakarta mencapai total lebih kurang satu juta meter persegi atau sama dengan luas 100 kali lapangan sepak bola. Area Jakarta telah berubah menjadi arena yang semakin meluas serta menyesuaikan pertambahan kebutuhan produksi dan konsumsi. Pertarungan ruang di dalamnya berlangsung dengan ketat.

Saat ini kita harus membicarakan Jakarta lebih jauh lagi dari sekadar melihatnya sebagai sebuah ruang yang karut-marut, yang pasti sudah diketahui oleh semua penghuninya. Kita harus mencoba untuk melihat kota sebagai sebuah ”arena” yang bisa lebih kita kenali lagi: bagaimana kita bisa berstrategi terhadapnya dengan penemuan-penemuan ruang, inspirasi, dan mekanisme sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang baru.

Jakarta Biennale XIII membayangkan ruang kota sebagai sebuah ”arena”—bisa dibayangkan seperti metafor klasik pertarungan para predator tanpa istirahat atau sebagai arena yang penuh dengan kemungkinan intervensi dan renegosiasi antarkepentingan. Proyek ini mencoba mencari relevansi, mengenali lagi kepentingan dan kebutuhan dalam konteks saat ini dan berusaha memperluas kesadaran tentang ruang dan publik yang mungkin tidak pernah terlalu banyak dilakukan oleh sebuah perhelatan seni rupa yang pernah berlangsung di Indonesia sebelumnya.

Membuat sebuah perhelatan dengan relevansi yang masuk akal di tengah konteks perkembangan masyarakat Indonesia saat ini tentu sangat tidak mudah. Di tengah sekian banyak pilihan prioritas lain yang sama masuk akalnya, sebuah perhelatan seni rupa harus tetap mengandung daya kritis yang cukup dalam melihat posisi dan peran seni dan seniman di tengah masyarakat: apakah dengan cara menjadi seorang badut yang melakukan akrobat untuk mendapat perhatian; menjadi pekerja sosial yang menawarkan solusi; atau menjadi filsuf dengan gagasan yang sukar dimengerti demi menjaga kemistisan seniman dan karya seni?

Konsep Jakarta Biennale XIII, 2009 – ARE(N)A, atau JB 2009, digagas, dirancang, dan dieksekusi sebagai tawaran kerja artistik dan kreatif yang relevan dan diharapkan memberikan kontribusi gagasan yang dapat direlasikan oleh publik yang lebih luas dalam kehidupan di ruang-ruang kota. Perhelatan ini melakukan banyak intervensi sekaligus kerja sama dengan masuk ke ruang-ruang publik, seperti mal dan jalan-jalan, bertarung di dalamnya, mengambil ruang, menarik perhatian (layaknya sebuah produk), memperluas rentang ruang dan gagasan artistik, serta menawarkan pengalaman seni yang lain.

Ketika sebuah perhelatan seni rupa harus masuk ke wilayah publik, interaksi yang terjadi tentu akan sangat beragam. JB 2009 tertarik untuk memberikan pengalaman inspiratif yang akhirnya dapat berkembang dalam bentuk yang secara organik tumbuh bersamaan dengan memori publik. Meluasnya pengalaman visual dalam subyek-subyek kota, dan pada saat yang bersamaan terus-menerus berusaha memperkaya gagasan tentang praktik seni rupa adalah sasaran luas yang disasar.

JB 2009 terbagi atas 3 ”zona”: Zona Pemahaman, Zona Pertarungan, dan Zona Cair. Ketiga zona ini bukanlah sebuah rangkaian pameran ataupun gagasan yang kronologis, tetapi lebih berhubungan dengan kecenderungan program. Dalam Zona Pemahaman, kegiatan lebih bersifat kerja sama dengan organisasi dan acara atau program lain, serta kegiatan yang bersifat mengkomunikasikan JB 2009 secara lebih komprehensif. Fokus zona ini adalah kegiatan-kegiatan yang dapat merefleksikan masalah ruang kota dan mengajak publik menyadari apa yang sedang terjadi karena selama ini publik sering kali hanya diposisikan sebagai target dan obyek.

Dalam Zona Pertarungan, yang melibatkan banyak pekerja seni lintasdisplin (arsitek, seniman grafiti, pekerja film, pemain teater, dll), baik kelompok dan individu, kami memasuki ruang-ruang publik untuk melakukan interaksi dan negosiasi dengan pertarungan dalam konteks sosial, ruang, sejarah, dari lokasi tertentu, memperluas pengalaman rupa melalui kerja kreatif yang partisipatif dan meredefinisi ruang-ruang publik dalam gagasan dan memori publik, untuk menciptakan dan menemukan kembali ruang baru.

Adapun Zona Cair akan lebih meneruskan tradisi Jakarta Biennale sebagai sebuah pameran besar seni rupa. Kurator Agung Hujatnikajennong memperluas diskusi tentang ”arena” arena dalam lingkup luas Asia Tenggara sebagai sebuah wilayah geografis yang sarat dengan sejarah perlintasan, perebutan, dan pertarungan (ideologi, agama, ekonomi, dan lain-lain). Selain menampilkan karya-karya seniman muda Asia Tenggara, pameran ini juga mengikutsertakan karya-karya seniman yang pernah melakukan lawatan, kunjungan, dan proyek di wilayah tersebut. Gagasan untuk mencampurkan seniman dengan berbagai latar belakang kebangsaan dimaksudkan sebagai upaya untuk melihat Asia Tenggara sebagai zona budaya yang beridentitas serba hibrid, serta meninggalkan paradigma geopolitik yang didominasi oleh oleh konsep negara-bangsa. Presentasi Zona Cair juga tidak hanya berada di ruang seni seperti Galeri Nasional Indonesia, tetapi juga masuk ke ruang mal yang akan lebih menghampiri penonton tak terseleksi.

Melaksanakan proyek JB 2009 secara menyeluruh berarti berada dalam arena itu sendiri—di dalamnya selalu ada kesalahpahaman, perdebatan, negosiasi, dan persuasi yang justru melahirkan penemuan-penemuan strategi baru. Yang menarik adalah ketika seluruh proses ini bukan lagi menjadi sekadar masalah bagaimana menaruh sebuah karya seni rupa dalam ruang atau gedung seni agar layak dilihat oleh penonton, tetapi menjadi sebuah pengalaman langsung bersama publik, lokasi, dan keseluruhan sistem di sekelilingnya. JB 2009 memahami seluruh pengalaman tersebut tidak hanya sebagai praktik budaya, tetapi sekaligus praktik sosial.

JB 2009 sangat memahami bahwa dalam penyelenggaraan perhelatan semacam ini, kegagalan dalam menghadapi ”pertarungan” dan ”kecairan” adalah bagian dari keajaiban sistem kehidupan masyarakat di Jakarta, bahkan Indonesia itu sendiri. Semua itu akan dipahami sebagai bagian dari sebuah proyek yang, barangkali, ”jauh dari rasa nyaman”. Perhelatan ini adalah sebuah format yang organik, yang siap dimasuki, diintervensi, dan diubah oleh kolaborasi dan situasi. JB 2009 adalah sebuah upaya untuk menjadikan kesenian sebagai sebuah strategi perubahan yang melibatkan subyek kota, di mana gagasan kreatif-reflektif dan kritis dapat membuka ruang-ruang baru yang lebih inspiratif, partisipatif, dan toleran di arena kota.***

Ade Darmawan Direktur Program JB 2009

Agung Hujatnikajennong Kurator Pameran Zona Cair

(diunduh dari Kompas Cetak Minggu, 1 Februari 2009 | 01:07 WIB

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: