Kurator Bukan Diktator Estetika

Kurator Bukan Diktator Estetika

HUKUM yang selalu berjalan sejak jaman Nabi Nuh hingga sekarang adalah supply and demand: permintaan dan penawaran, dengan pasal lanjutan: Bila permintaan meningkat, harga akan melonjak. Lalu kami tambahkan: Bila permintaan berjubal dan harga membumbung, muncullah para epigonistik dan spekulan.

Demikianlah, pada ranah seni rupa, telah bermunculan para epigon dan spekulan karena jagad seni rupa sering kali secara mengejutkan dan tanpa bisa diprediksi sebelumnya, mengalami permintaan yang tiba-tiba melonjak. Lukisan mengalami booming, sejenak sunyi, kemudian booming lagi.

Kurator, yang stakat ini menjadi institusi formal sangat dibituhkan pada sebuah penyelenggaraan pameran dengan beragam alasan, tentu mendapatkan permintaan yang turut melonjak pula. Pergutuan tinggi seni tidak peka terhadap kondisi ini, hingga sampai saat ini belum juga menyiapkan para calon pemikir, penafsir, pengabar, yaitu kritikus, kurator, wartawan seni. Hatta, ketiga profesi yang cukup signifikan itu lahir karena keterdesakan, dengan beragam alasan keterdesaknnya.

Yang cukup menyedihkan adalah protes kurator, sebab ada yang menyindir secara nyinyir, kurator adalah seniman gagal. Maksudnya?

Perbincangan, edisi kali ini, Majalah ARTI menurunkan wawancara dengan salah satu kurator Galeri Nasional Indonesia, yaitu Kuss Indarto. Bagaimana pandangan Kuss terhadap posisi dan potensi kurator terkini, berikut petikannya.

Makna kuratorial pasti berkembang mengikuti alur peradaban. Menurut Anda, apa sebetulnya yang dimaksud kuratorial pada saat ini?

Kuratorial, saya kira, untuk konteks hari ini, adalah sebuah disain besar untuk perhelatan seni rupa. Di dalamnya ada kerangka, visi, misi, perspektif, isu, hingga perkara teknis yang bisa dimunculkan, dielaborasi dan diaplikasikan dalam sebuah pameran seni rupa. Ya, sekilas seperti begitu idealis, karena sesungguhnya kuratorial merupakan penjembatanan proses produksi karya kreatif menuju proses apresiasi dan konsumsinya di tengah publik dengan beragam cara dan responsnya. Saya pribadi selalu berasumsi bahwa perhelatan seni rupa itu ada proses kuratorial untuk menjadikannya sebagai peristiwa kultural sehingga perlu ada disain yang lebih matang. Bahwa kemudian perhelatan itu lebih banyak dibaca dalam kerangka yang lebih sempit, misalnya hanya sebagai sebuah peristiwa ekonomi, ya saya kira itu bisa jadi lebih karena by respond, not by designed. Dan itu tidak salah sepenuhnya, mengikuti alur peradaban seperti yang Anda bilang.

Prinsip-prinsip dan metode yang Anda jalankan dalam mengkurasi sebuah pameran, bisa dijelaskan?

Ada banyak kemungkinan. Salah satunya ada metode, kalau boleh disebut begitu, yang berusaha saya terapkan yaitu metode partisipatoris. Ini memungkinkan saya sebagai kurator bisa bekerja dengan seniman secara equal and mutual, setara dan saling dukung. Saya berusaha tahu apa kebutuhan seniman pada sebuah pameran tertentu, dan saya berusaha untuk bekerjasama menggagas hingga lalu menjadi “bidan” yang baik untuk terlibat dalam proses kelahiran karya. Sekali lagi dalam hal gagasan lho ya, bukan teknis. Karena itu tentu wilayah seniman. Metode ini memosisikan kurator dan seniman sebagai sesama subyek yang sederajat, bukan patron-klien yang hierarkhis pola hubungannya.

Ada beberapa orang (kurator) yang mendikte seniman agar menambahkan elemen ini atau itu pada sebuah karya supaya karyanya selaras dengan pasar. Sikap Anda untuk kasus ini?

Ya, mudah-mudahan ini kasuistik, bukan fenomena. Hanya terjadi pada satu dua kurator dan tidak otomatis bisa digeneralisasi. Dan hal yang lebih penting dari kasus ini, perlu dikuak latar belakangnya. Apakah ini karena sang kurator begitu otoriternya hingga setiap titik karya seniman harus tercipta lewat proses yang didaktis, yang sangat menggurui? Atau kurator tak mampu memberikan proses diskusi yang memadai sehingga pola partnership-nya lebih egaliter dan partisipatoris? Atau senimannya begitu blo’on-nya hingga tak tahu bagaimana menarik garis yang artistik, bagaimana menorehkan titik yang mendekati ideal? Saya berusaha keluar dari perangkap itu dengan membagi peran bahwa kurator bekerja di aspek kerangka-ide, dan seniman di wilayah kreatif-visual.

Juga ada beberapa kurator yang gemar mengutip penggalan pendapat orang lain (terutama dari Barat), namun seringkali tidak memiliki kohesi dengan bahasannya. Ada kesan dia tidak punya pendapat. Dia hanya tukang kutip pendapat. Komentar Anda?

Tak sepenuhnya salah komentar Anda. Saya sepakat. Tapi saya berusaha berpikir positif bahwa pola pengutipan dalam teks kuratorial itu bisa jadi muncul untuk memberi landasan teoritik atas praktik kuratorial yang tengah digagas seorang kurator. Misalnya, mau membingkai kerangka kreatif seniman dalam strukturaslime ya larinya ke Claude Levi-Strauss. Mau melandaskan pikiran dasar ke cultural studies ya bisa ke Gayatri Spivak, mau ke eco-feminisme bisa ke Vandana Shiva. Pengen bertolak dari orientalisme ya kulanuwun ke Edward Said. Berbasis teori postcolonial ya bisa lewat Homi Bhabha, dan sebagainya. Tapi kalau terlalu banyak mengutip dan tidak substansial, ya kayak banci yang berdandan menor kali ya. Nggak connect dan norak, hehehe… Jadi, pada dasarnya saya setuju dengan pemakaian kutipan teori sepanjang itu relevan, substansial, mendasari atau bahkan menguatkan gagasan awal pameran. Bukan sekadar karnaval nama-nama yang seolah hanya ingin keren dan takut ketinggalan kereta zaman…

Banyak tulisan kuratorial pada katalog yang kurang mencerminkan atau malah bertolak belakangan dengan kandungan sebuah pameran. Apa ini sebuah tren supaya sang kurator terlihat pintar, atau itu terjadi karena salah tafsir si kurator terhadap karya yang dipamerkan, atau bagaimana?

Nah, ini. Ada yang salah kaprah bahwa tugas kurator itu seolah hanya menulis di katalog. Bukan itu. Porsi untuk itu kira-kira hanya 25-30% saja, karena selebihnya ada yang lebih penting, yakni melakukan proses pendampingan terhadap seniman dalam menelurkan setiap karya. Diskusi, tukar gagasan, kritik terhadap karya dan seterusnya. Nah, kalau kurator hanya sibuk di wilayah teks kuratorial saja, hingga berbuih dan bertolak belakang substansinya, ya dia mungkin hanya penulis katalog saja. Bukan kurator. Wajar kalau Anda menganggap salah tafsir karena mungkin tak ada proses dialog dalam proses kuratorial itu. Dan ini akan sangat mungkin terjadi kalau kurator tidak tahu sama sekali sejarah kreatif sang seniman. Dan apalagi pamerannya rombongan, waahhh…, nggak gampang! Namun pada titik ini kita juga mesti teliti, apakah sebuah teks kuratorial itu salah tafsir atau mencoba mengayakan tafsir dengan beragam perspektif? Ini perlu ketelitian dalam membaca. Kurator yang baik akan menuliskan kebutuhan seniman yang akan berpameran

Ada yang berkomentar sinis, kurator adalah seniman gagal. Maksudnya, banyak kurator yang semula merintis karier jadi seniman, namun kariernya tidak cemerlang, kemudian banting setir jadi kurator. Anda juga seperti itu, atau ada argumentasi lain?

Hahaha… Saya kira ini pertanyaan yang bagus kalau dilontarkan 20, 30 atau 50 tahun lalu. Kalau sekarang masih muncul ya jadul, kuno. Saya kira pertanyaan Anda ini bisa muncul juga karena gagalnya sistem pendidikan seni rupa kita, hahaha. Artinya, ada semacam konstruksi bawah sadar yang kuat yang terus dibangun bahwa kalau lulus dari perguruan seni rupa harus jadi seniman. Kalau di luar itu, berarti gagal. Jagad praktik seolah jauh lebih penting dari hal yang teoritik. Nah, bagaimana bagi mereka yang memiliki ketertarikan pada dunia teori? Mereka orang yang gagal? Nonsense! Dua hal itu mesti saling dukung, mutualistik, dan bersinergi dengan baik.

Juga sekarang ini bermunculan kurator yang tidak memiliki basik akademik di bidang seni, khususnya seni rupa. Apa ini memperkaya, memiskinkan, atau memperkeruh seni rupa di Tanah Air?

Saya berusaha optimis bahwa kehadiran mereka penting untuk memberi pengayaan pada jagad seni rupa. Toh seni rupa itu bagian kecil dari kebudayaan yang terus bergerak. Dan dari pihak berdisiplin ilmu lain inilah kita berharap bisa memberi nilai dan dimensi yang luas terhadap dunia seni rupa untuk kemudian diartikulasikan ke ruang-ruang yang lebih luas. Tapi tidak semuanya begitu ya? Ada kalanya seorang seniman mengeluh pada saya karena karyanya dihakimi dari aspek visual oleh kurator dari “dunia lain” itu. Katanya lukisannya kurang object anunya, itunya, dan semacamnya. Saya kira ini bahaya karena sudah di luar otoritasnya sebagai kurator “dadakan”. Cukup mendampingi untuk mengarahkan aspek gagasan, membaca gejala visual, memberi kerangka tematik yang fokus, dan sejenisnya. Bukan semata-mata mendikte ini lukisan bagus atau tidak, karena mereka ini belum tentu tahu persis wilayah tersebut ketimbang si seniman sudah lebih lama menggumuli dunia artistik.

Saran Anda kepada perguruan tinggi seni yang belum juga membuka jurusan khusus untuk menyiapkan para pemikir, kuratorial, termasuk penulis karya seni?

Ya, ini memang bukan urusan membalikkan tangan dengan mudah. Ada proses panjang dari sebuah usulan menuju penerapan. Saya belum yakin dalam 5 tahun ke depan sudah ada minat utama atau jurusan kurator, kritik seni, dan semacamnya. Tapi sekarang ini kan kalau tak salah sudah ada Jurusan Pengkajian Seni di Pascasarjana ISI Yogyakarta. Mungkin juga perguruan tinggi yang lain. Lha, pencapaiannya sampai sejauh mana? Apakah sudah bisa menelurkan para master yang kritis, kajiannya bagus, karya penelitiannya fenomenal dan penting untuk dikaji lebih lanjut? Apa bukan hanya proyek untuk menaikkan strata kepangkatan sebagai pegawai negeri? Atau untuk yang dekat dengan sayalah, di ISI Yogyakarta. Di sana ada Lembaga Penelitian (LP). Produk yang berguna dan penting apa yang sudah ditelurkan? Mana jurnal ilmiah berwibawa karena periodisasi yang jelas dan substansinya yang bisa dipertanggungjawabkan? Jujur saja, nggak ada. Buku-buku? Wah, sulit kita nyari. Fakta ini sangat timpang dengan realitas di seberangnya bahwa banyak seniman atau praktisi penting dilahirkan dari almamater ini. Ini kritik lho, bukan hujatan! Jadi saran saya, untuk lembaga sebesar ISI Yogyakarta, sudah semestinya menguatkan diri di aspek penalaran atau teoritik. Lembaga yang ada dibenahi dan dimaksimalkan fungsinya. Kalau di sana ada Pratisara Affandi Karya untuk karya lukis terbaik yang dianugerahkan secara tahunan, kenapa tidak ada, misalnya, Prof. Soedarso Sp Award bagi para peneliti seni dalam dan di luar kampus ISI? Nanti ITB bikin Prof. Sudjoko Award atau Sanento Yuliman Award-lah, atau yang lain. Ini soal apresiasi kita terhadap hasil pemikiran yang sangat tertinggal.

Di Indonesia ini, tidak ada guide baik di museum maupun galeri yang mampu menjelas-tegaskan karya, hingga karya seni rupa menjadi bisu di mata orang awam. Tapi juga mengapa banyak tulisan kuratorial tidak mampu menjadi guidance yang memadai?

Ya, kita belum punya tradisi yang kental untuk hidup bersama museum. Museum adalah barang langka dan asing, maka dia belum menjadi hal penting dalam tarikan nafas kita. Jangankan guide, lha wong anggaran untuk itu dari pemerintah pun selalu minimal. Jadi ya maklum kalau museum menjadi rentetan garis yang belum penting dalam perhatian kita bersama. Nah, kalau tulisan kuratorial yang dianggap kurang mampu menjadi pemandu, ya saya akui tidak sedikit seperti yang Anda asumsikan itu. Karena memang catatan kuratorial itu diletakkan sebagai hasil pemetaan atas gagasan dan kerangka pameran, dan semata-mata bukan hasil pembacaan atas karya perkarya.

Profesi Anda saat ini tidak bisa lepas dari galeri seni rupa. Banyak yang mencibir, bahwa galeri didirikan hanya sebagai show room lukisan. Sikap Anda?

Kita sadar ada alur proses produksi-reproduksi-distribusi-representasi pada ritus kreatif seniman. Pada titik “distribusi” inilah seniman butuh mitra yang antara lain adalah galeri. Pola relasi antara kedua pihak ini saya kira mutualistik, saling membutuhkan. Memang kita butuh galeri sebagai ruang untuk meluaskan cakupan eksperimen kreatif seniman yang mengartikulasikannya lewat beragam medium karya di luar lukisan. Kita juga butuh galeri sebagai ruang untuk mendistribusikan gagasan yakni sebagai ruang diskusi. Saya sih ingin sekali selalu ada diskusi di sela pameran. Tapi, apa ya ada audiens-nya? Budaya diskusi kita masih sangat lemah. Seniman yang mau repot-repot untuk bereksperimen juga minim. Galeri memang butuh partner kurator dan seniman yang progresif. Dan saya tak jarang untuk memberi input agar galeri lebih kaya medium pada karya yang dipamerkan. Tapi ya harus slow but sure, evolutif. Tak bisa revolusioner, pasti banyak tabrakan yang tak enak.

Bagaimana penilaian Anda tentang balai lelang yang makin marak, di mana tidak sedikit publik seni rupa yang menyikapinya dengan nyinyir karena balai lelang dimanfaatkan untuk ‘menggoreng’ atau mengkatrol seniman?

Ya, saya melihat ada alur mekanisme pasar seni rupa yang terganggu. Kalau sebelumnya alur distribusi karya itu dari seniman-galeri-kolektor-balailelang-dan seterusnya, kini tak sedikit yang berjalur seniman-kolektor-balailelang atau seniman-balailelang. Dalam jangka pendek, tak sedikit seniman yang diuntungkan secara ekonomis. Namun dalam jangka panjang, surutnya peran galeri dalam mekanisme pasar tadi, kalau ini terjadi, akan membuat balai lelang dominan dan otoriter. Apa publik seni rupa kita banyak yang sadar potensi bahaya ini nggak ya? Saya sih merasa lucu aja melihat seniman yang tiba-tiba dibesarkan harganya (price) dan bukan nilainya (value) oleh balai lelang. Dan bangga gitu, hahaha. Bukan bangga karena bisa ikut event seni yang penting di luar negeri, misalnya.

Bayangan Anda tentang kondisi seni rupa yang ideal untuk negeri ini?

Saya membayangkan adanya perimbangan antara produksi karya kreatif dan produksi gagasan dan penalaran yang cerdas di ruang seni rupa di Indonesia. Ada perhelatan seni yang prestisius untuk mengartikulasikan beragam isu lewat dunia visual ke tengah-tengah forum dunia, di samping adanya pasar yang terus berkembang dan menghidupi publiknya. Intinya, saya punya ekspektasi yang besar pada berimbangnya jagat kreatif dan dunia pemikiran di jalur seni rupa. Tidak hanya lahir buku-buku lelang yang mewah tapi juga banyak muncul buku-buku hasil penelitian khusus dengan pembahasan yang fokus. Kalau ini terjadi, lambat-laun, publik merasa bahwa pergi ke museum atau galeri merupakan sebuah kebutuhan bahkan tuntutan yang segaris dengan kebutuhan untuk belanja ke mal, cari seafood, gonta-ganti aksesoris mobil dan sejenisnya.

Ada peranan yang terasa mandul di dunia seni rupa, yaitu kritikus dan jurnalis yang mumpuni. Ide Anda agar kedua profesi ini segera kondusif?

Banyak faktor penyebab. Pertama, tak sedikit para kritikus bergeser menjadi kurator. Dan jangan salah, dalam proses kuratorialpun mereka masih menerapkan prinsip-prinsip dasar kritik seni. Kedua, berkait pada hal pertama, tak banyak kebutuhan yang mendesak untuk menghadirkan kritikus seni rupa ketimbang kurator. Ketiga, ruang mediasi konvensional bagi kritik seni yang kian menyempit. Sekarang ini, banyak media massa yang surut perannya bagi munculnya kritik seni rupa. Meski ini tak masalah karena ada ruang penggantinya yakni di dunia cyber yang tidak terbatas. Fakta-fakta di atas justru menyisakan pertanyaan untuk para jurnalis: kenapa mereka tak mengambil peran penting ini di media masing-masing? Kenapa mereka jarang yang meng-update sistem pengetahuan mereka dengan kebaruan informasi di sekelilingnya?

Tentang penyelenggaraan biennale, sebutlah Biennale Jogja, mengapa selalu ricuh? Apa memang sulit dicarikan formula yang berwibawa, yang bisa dihargai semua kalangan?

Biennale Jogja belum menjadi yayasan, misalnya, yang menjadikan kepengurusannya permanen untuk periode tertentu. Itu salah satu problem besar. Sehingga perhelatan sebesar itu berpotensi besar untuk dimasuki oleh pihak yang mau politicking di situ. Seperti Biennale Jogja 2007 lalu kan kelihatan banget tuh ada seniman, kolektor, dan pialang yang menjadi geng dan memanfaatkan panitia di dalam untuk membuat lelang dalam biennale. Itu ngawur! Makanya sikat aja gerakan penuh politicking seperti itu. Karena yang kena getahnya citra Biennale Jogja. By the way, biennale di Indonesia butuh yayasan untuk membentuk sistem yang kuat.

(Teks di bawah ini dikutip dari Majalah Seni ARTI, edisi No. 11, Januari 2009, halaman 26-31)
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: