Proklamasi dari Bandung

Proklamasi dari Bandung

Dua puluh enam perupa muda Bandung menggelar karya di Galeri Nasional, Jakarta, dalam tajuk Bandung Art Now. Inilah generasi terbaru perupa Bandung.

”Ingin jadi seniman kaya?”
”Ketik Reg Seniman Kaya kirim ke 6060.”

Di video, wajah Rifky Efendy, yang sekarang dikenal sebagai salah seorang kurator laris Indonesia, mengucapkan kalimat itu dengan mimik serius. Ia tengah menjajakan iklan untuk mengubah nasib seniman berdasarkan zodiak. Itulah karya video Yusuf Ismail yang kocak.

Karya ini mencuri perhatian. Karya ini terasa aktual karena menampilkan parodi terhadap boom seni lukis Indonesia dua tahun terakhir, yang tiba-tiba membuat banyak perupa muda kita menjadi miliarder. Karya ini juga parodi terhadap wabah munculnya kurator yang tiba-tiba menjadi profesi bergengsi di dunia seni rupa kita. Termasuk Aminudin T.H. Siregar dan Heru Hikayat, yang menguratori pameran bertajuk Bandung Art Now di Galeri Nasional ini. Keduanya muncul di video dengan wajah serius, memberikan kiat-kiat sukses seniman untuk pameran: ”Saya akan beri tip-tip!”

Dan Bandung berjiwa anak muda. Pameran ini menarik karena kurator juga mengundang anak-anak muda Bandung yang kesehariannya bergulat dalam ranah industri distro. Mereka dipersilakan menampilkan karya-karya video, fotografi, atau sound art. ”Mereka tetap memiliki jiwa seniman. Karena itu, kami mengakui mereka sebagai seniman,” ungkap Heru Hikayat, ko-kurator.

Lihatlah bagaimana Dendy Darman membuat karya bertajuk Never Green. Memasuki Galeri Nasional, Jakarta, kita akan melihat tumpukan puluhan kontainer memenuhi koridor depan Galeri. Di lambung kontainer itu tertera cap-cap Never Green. Tentu saja itu bukan kontainer betulan, tapi dibuat dari kardus.

Dendy sehari-hari dikenal sebagai bos Distro Uncle 347, yang sukses menjual dari CD/tape band lokal, produk sepatu, sampai barang-barang surfer dan skater. Omzetnya setiap hari mencapai Rp 300 juta. F.X. Harsono, perupa senior, tampak suka dengan karya Dendy ini saat mengunjungi pameran. ”Ini mengingatkan saya pada sebuah karya di Singapore Biennale kemarin, di Marina Bay. Di situ ada seorang perupa menumpuk kontainer betulan memenuhi seluruh ruangan,” katanya.

Saat memasuki arena foyer Galeri Nasional, pengunjung disuguhi instalasi unik perupa Gus Barlian, Your History Is My Lullaby. Ia menggunakan medium senter dan kaca pembesar. Anda dipersilakan memencet sebuah tombol, kemudian dari senter itu seolah-olah tersorot visualisasi Bandung masa lalu. Gus Barlian bersama Dikdik Sayahdikumullah, Aytjoe Christine, dan R.E. Hartanto dalam pameran ini boleh dibilang yang tertua dari segi umur. Usia mereka di atas 35 tahun, sementara perupa lain berumur 20-an.

”Acuan seniman muda Bandung generasi 2000 sekarang tidak jauh-jauh ke Tisna Sanjaya, tapi ke Christine atau Dikdik,” kata Aminudin T.H. Siregar. Pameran yang digelar Galeri Langgeng ini sejatinya merupakan akhir dari sebuah trilogi. Awalnya adalah pameran Petisi Bandung I dan Petisi Bandung II, yang digelar pada 2005 dan 2007, di Galeri Langgeng, Magelang, Jawa Tengah. ”Di Bandung beberapa tahun ini muncul terus-menerus perupa muda baru. Saya sendiri sampai banyak yang tidak mengenal, ” kata Deddy Irianto, pemilik Galeri Langgeng.

Lihatlah sebuah patung karya Radi Arwinda berjudul PET-PET. Sekilas kita melihat idiom seni rupa Takashi Murakami, perupa besar Jepang generasi 1990-an yang membuat karya-karyanya berdasarkan spirit industri manga. ”Radi berusaha menggabungkan manga dan tradisi Cirebonan,” kata Aminudin T.H. Siregar. PET-PET sesungguhnya adalah patung maskot diri Radi Arwinda. Patung itu menampilkan sosok chubby dengan wajah imut. Elemen-elemen di tubuhnya menampilkan hiasan kepala celeng khas Cirebonan sampai ragam hias Mega Mendung.

Dunia pop tanpa beban dicampurbaurkan dengan tradisi, bahkan dengan simbol-simbol religiositas, oleh anak-anak muda ini. Simak karya berjudul Virgin Mary karya Budi Nugroho. Kita akan melihat sesosok patung yang mengingatkan kita pada patung-patung Bunda Maria dengan untaian kalung salib, tapi sosok Maria diganti dengan tokoh kartun Simpson. Adapun Tinto Satrio menampilkan lukisan dengan tokoh sentral Rahwana. Jangan harap menemukan wajah sangar Rahwana dalam lukisannya. Rahwana pada kanvas Tinto adalah pria mbois dengan kumis tipis.

Lihatlah Rahwana and the Sin of Arcedia. Di situ Tinto memparodikan karya klasik The Death of Marat karya perupa Prancis, Jacques-Louis David. Rahwana di situ dipasangkan dengan ayah Bart Simpson yang pemalas—si Homer. Rahwana dan Homer berada dalam satu bathtub sembari menikmati bir dan donut J.CO. Kucing malas Garfield pun ikut serta di lantai kamar mandi. Sedangkan pada Rahwana and the Sin of Luxuria, Tinto memparo­dikan Olympia karya Edouard Manet. Di situ digambarkan Barbie dalam sosok telanjang tengah berbaring di kasur empuk dengan seprai warna biru. Di sam­pingnya, ranjang gramofon kuno mene­mani, sementara Rahwana menggenggam buket bunga bersama anjing pudel di ujung ranjang. Memandang karya ini seakan-akan kita sedang merayakan kebodohan bersama donat J.CO, Barbie, Rahwana, dan Marat.

Akan halnya perupa Prilla Tania menampilkan medium gabungan performance dan fotografi. Tiga fotonya menampilkan dirinya sendiri tengah membelakangi kamera, menatap rak berisi buku. Karya bertajuk Project Foto 1208 itu rupanya tengah menyoroti masalah pendidikan. ”Apa fungsi pendidikan? Buat saya, itu untuk survival, untuk bertahan hidup,” kata perupa 29 tahun yang baru selesai mengikuti resi­densi di Taiwan ini.

Bermain-main dengan tema pendidikan juga dilakukan trio perupa Tromarama. Trio perupa asal Jakarta yang kini menetap di Bandung itu menyulap ruang kecil di pojok Galeri Nasional menjadi sebuah kelas taman kanak-kanak. Ruang kelas itu lengkap dengan papan tulis hitam, barisan kursi dan meja mungil, serta hiasan-hiasan dinding tentang berhitung dan belajar membaca. Tak lupa, foto presiden dan wakilnya. Kita lalu dapat duduk di kursi-kursi kecil itu dan menonton karya-karya animasi kelompok ini. Kelompok Tromarama terkenal karena banyak membuat animasi dengan materi dasar cukil kayu.

Sedangkan Syagini Ratnawulan, yang sehari-hari memiliki usaha tas, menampilkan karya unik berupa lampu chandelier dengan gantungan kelelawar bertajuk Wish You Were Out. Dan juga sebuah kursi dengan tangan yang ditancapkan di dinding, yang mengambil judul lagu Pink Floyd, Wish You Were Here. Itu bukan berarti dalam pameran ini semua karya serba fun, jenaka, tanpa perenungan. Beberapa karya cenderung reflektif. Simak rangkaian karya patung kecil Nurdin Ichsan berjudul Standing Man. Patung pertama menampilkan seorang laki-laki berdiri di depan sebuah tembok bata merah. Patung kedua: lelaki itu bersujud di depan tembok. Karya ini mampu mengatakan sesuatu yang subtil kepada mereka yang melihatnya.

Demikianlah generasi terbaru perupa Bandung rame-rame menyatakan diri.

Sita Planasari Aquadini, Seno Joko Suyono

(diunduh dari http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/01/12/SR/mbm.20090112.SR129212.id.html)
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: