Yang Keren dan Terkendali

PAMERAN

Yang Keren dan Terkendali

Oleh Wicaksono Adi

KOMPAS — Siapa pun yang rajin nonton pameran seni rupa kontemporer tak akan heran ketika melihat karya seni yang terbuat dari benda sehari-hari seperti kursi, batu bata, lampu kelap-kelip plus efek ini itu, foto-foto, tulisan dan gambar oret-oretan di dinding, barang-barang bekas (asli dan tiruan), atau tayangan video yang berisi potongan-potongan adegan yang diulang-ulang dan sejenisnya.

Benda-benda yang dirakit dalam bentuk tertentu itu lazim disebut seni instalasi. Almarhum Profesor Sudjoko punya istilah ”seni pepasang” buat seni semacam itu. Belakangan anggapan seni instalasi muncul lantaran para seniman tidak puas dan tidak percaya lagi terhadap media atau segala wujud artistik kuno yang disebut ”seni murni”. Bagi mereka, seni rupa dapat dibuat dari apa saja dan dapat berlangsung di mana saja: ruang pameran, ruang makan, tempat tidur, jalan raya, etalase, kamar mandi, layar komputer, pematang sawah, tepi sungai, kuburan dan sebagainya dan sebagainya.

Tubuh, politik, mistik, metafisika, ice cream, jazz, dangdut, jender, iklan sabun, dan demo masak dapat ditampilkan secara serempak tanpa perlu takut apakah semua percampuran itu nyambung atau tidak.

Bukankah dunia kita hari ini memang tampil dalam bentuk serpihan yang fragmentatif, penuh ambiguitas, kontradiksi, dan paradoks? Bukankah semua hal di sekeliling kita nongol begitu saja, satu sama lain banyak yang enggak nyambung? Lalu bagaimana merangkum segala yang acak-acakan, saling bertentangan, terpotong-potong dan muncrat sana sini itu dalam karya seni?

Sebagian seniman menjawab: ”Ya sudah, tampilin saja segala yang enggak nyambung dan berserakan itu sebagaimana adanya. Enggak perlu dipoles-poles”. Dan seniman lain yang memuja laku penciptaan seni rupa sebagai upaya untuk keluar dari kebuntuan ”seni murni” akan bilang: ”Menciptakan seni dengan mengembangkan berbagai elemen baru semacam itu bukan perkara sepele. Ada banyak alasan untuk melakukannya, termasuk kebutuhan seni untuk merepresentasikan realitas sekaligus tidak terjebak pada bentuk-bentuk representasi yang justru membatasi realitas itu sendiri”.

Bagi mereka penggunaan serbamedia dalam seni rupa selain untuk merangkum serbarealitas yang silang sengkarut acak-acakan enggak keruan, juga didorong oleh tendensi tertentu yang mengacu pada faktor-faktor dominan dan dianggap penting dalam art world yang melingkupinya, termasuk kebutuhan pasar.

Keyakinan semacam ini biasanya berlaku pada seniman kontemporer yang sudah mapan. Kebanyakan dari mereka adalah lulusan ISI dan tinggal di Yogyakarta yang cenderung berkarya dalam situasi mbentoyong alias terbungkuk-bungkuk memanggul beban estetik tertentu. Tapi semangat mbentoyong itu tidak selalu diikuti oleh pemahaman yang memadai mengenai wacana seni rupa kontemporer itu sendiri. Seniman Jogja memang cenderung memiliki skill yang oke, tapi mereka biasanya hanya mengandalkan bakat alam. Minat baca mereka tergolong rendah.

Dan ketika melihat beberapa pameran seniman muda Bandung saya melihat bahwa mereka lebih rileks dan enggan mendramatisir tendensi atau beban kesenimanan semacam itu. Seniman muda Bandung cenderung tidak mbentoyong. Tapi bukan berarti mereka tak peduli dengan berbagai terobosan yang dibuka oleh perkembangan paradigma estetik terkini. Minat baca mereka relatif lebih baik ketimbang seniman Jogja.

Sikap rileks itu kembali tampak pada pameran Bandung Art Now (Galeri Nasional, Jakarta, 7-17 Januari 2009). 26 seniman (individu dan kelompok, mayoritas belajar seni rupa di ITB) rame-rame datang ke Jakarta di bawah komando kurator Aminudin TH Siregar. Pada acara pembukaan datang juga kontingen berduyun-duyun menyewa banyak bus hingga Galeri Nasional penuh sesak oleh anak-anak muda gaul dan kul dan keren. Ada kurator Rizki A Zaelani sebagai bapak guru yang gemuk (dan suka menulis dengan mengutip buku-buku bahasa Inggris), lalu seniman-kurator Asmudjo J Irianto sebagai dosen yang sangat gaul (dan suka nongkrong di mal), pake topi dan kacamata model anak band masa kini.

Suasana gaul

Di kampus ITB para kurator dan dosen muda ini membawa suasana gaul ke ruang kelas, asyik berbaur dengan para mahasiswi yang mirip cover girl seperti Syagini Ratnawulan (yang juga sangat akrab dengan pemikiran mutakhir model filsafat posmo dan buku-buku seni terpenting). Sebagian dari mereka memperlakukan berbagai pemikiran berat itu sebagaimana mengunyah permen atau menelan ice cream.

Tentu tampang mereka berbeda dengan seniman Jogja yang biasanya anak petani atau keluarga agraris pedalaman. Begitu masuk ISI jadi gondrong dan bulukan supaya dapat menggaet cewek-cewek bule. Mimpi mereka cuma satu: pengin jadi seniman kaya model mbentoyong tadi. Kalaupun mereka menggarap tema-tema yang lagi ngetren dan mengolah bahasa pop, biasanya didasari oleh tendensi estetik dalam bentuk wacana ini itu yang belum tentu mereka mengerti dengan baik. Kultur kota dan pop pada dasarnya memang bukan bagian hidup mereka.

Sementara bagi sebagian seniman muda Bandung segala ihwal kebebasan ekspresif model gaya hidup pop (beserta segala kemungkinan bahasa visual kota yang artifisial) sudah menjadi makanan sehari-hari. Banyak anak muda Bandung (termasuk kelompok-kelompok indie) yang fasih menggunakan bahasa pop perkotaan menjadi karya-karya ekspresif dalam cakupan yang lebih luas. Sebagai seniman berlatar belakang akademi (seni rupa ITB) mereka memiliki modal yang cukup buat merayakan kebebasan model anak muda perkotaan yang ngepop sehingga dengan enteng dapat mengolah serbatema dan serbamedia menjadi karya-karya yang segar.

Kita menyaksikan Faisal Habibie dan Syagini yang enjoy mendistorsi bentuk, evidensi, dan fungsi kursi, Yusuf Ismail dengan video ”Ketik REG Spasi”—bagi siapa saja yang pengin jadi seniman kaya—sebagai sarkasme terhadap maraknya jasa paranormal atau konsultasi ini itu lewat SMS di televisi (dengan model kurator Rifky Effendi sebagai si paranormal). Lalu kelompok Tromarama yang bikin video instalasi di ruang kelas (anak-anak), JA Pramuhendra yang membuat gambar charchoal di kanvas ukuran besar, Dendy Darman dengan tumpukan kontainer (Nevergreen), Prila Tania dengan serial fotografi, dan lain-lain.

Kurator Aminudin TH Siregar bilang, ”Secara umum tema karya-karya mereka bertolak dari keresahan personal. Kendati demikian, cara meramu permasalahan keseharian masing-masing di situ merupakan hasil dari persinggungan mereka dengan problematika sosial umum yang tengah berlangsung di Indonesia…juga menghadirkan sisi lain dari kerumitan memahami identitas—untuk menjalani hidup di tengah berbagai perubahan di Tanah Air yang demikian cepat.”

Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Tapi yang lebih menarik adalah ketika melihat bagaimana para seniman muda Bandung itu berusaha melakukan ”kontrol” terhadap kerumitan batas-batas representasi dari realitas yang campur aduk, terpecah-pecah, dan menyebar seperti fragmen-fragmen yang saling bertentangan dan kadang saling berkelindan menuju penyesuaian dan keseimbangan tertentu tapi pada saat lain menggumpal tak tertembus. Di sana-sini tercium juga aroma teror dari karya-karya mereka. Tapi aroma itu tak terlalu tajam. Tak ada yang berderak brutal di situ. Juga tak ada kengerian yang bikin gemetar.

Semuanya masih mungkin untuk ”dikontrol”. Hampir semua karya dibuat dengan penuh perhitungan. Lantai dan ruang galeri terasa bersih dan terukur. Segala potensi ambiguitas, absurditas, paradoks, ketidakpastian, dan kehampaan makna ditangani secara rileks tapi terkendali. Saya tak tahu kenapa para seniman muda yang kul dan keren itu kini jadi tampak jinak dan tertib. Entahlah. Tapi karier mereka masih panjang. Semoga mereka tidak akan jadi seniman model Jogja yang agraris tapi sok keren dan meng-kota, tapi enggak nyampe itu.

Wicaksono Adi Kritikus Seni

(Sumber KOMPAS, 11 Januari 2009)

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: