ToR MANIFESTO Pameran Besar Seni Rupa Indonesia 2008


Manifesto

Pameran Besar Seni Rupa Indonesia 2008


DAFTAR ISI

halaman

1. Pengantar Gagasan Pameran 3

2. Ketetapan Penyelenggaraan Pameran 11

3. Mekanisme Kurasi & Tanggal Penting 15

4. Formulir Kesedian Peserta 16


PENGANTAR GAGASAN PAMERAN

1. Pendahuluan

Di dunia seni rupa kita istilah-istilah International art, modern art, world art, contemporary art diterjemahkan menjadi: seni rupa internasional, seni rupa modern, seni rupa dunia dan seni rupa kontemporer dengan asumpsi “art” sama artinya dengan “seni rupa”. Akan tetapi, para penerjemah yang lebih mendalami seluk beluk Bahasa Inggris menerjemahkan istilah-istilah ini menjadi: seni internasional, seni modern, seni dunia dan seni kontemporer. Pada penerjemahan ini “art” berarti “seni”.

Kedua penerjemahan ini betul, tidak ada yang salah karena “art” dalam Bahasa Inggirs bisa diartikan “seni” dan sekaligus bisa diartikan “seni rupa”. Maka ada dua istilah dalam Bahasa Indonesia untuk menunjuk satu istilah “art” dalam Bahasa Inggris. Ini bukan sekadar masalah bahasa. Kejanggalan ini menunjukkan perbedaan persepsi seni dan ideologi seni (raison de’etre).

Perbedaan persepsi dan ideologi seni seperti ini sedang dipersoalkan pemikiran seni (teori-teori seni) yang sekarang berkembang paralel dengan seni rupa kontemporer.[1] Pemikiran ini ternyata menghadapi kemacetan karena kegagalan mengidentifikasi persepsi dan ideologi seni di dunia non-Barat yang berpangkal pada kegagalan menemukan istilah yang bisa dipadankan dengan istilah “art” pada kebudayaan-kebudayaan non-Barat (baca: kebudayaan-kebudayaan ethnik).[2]

Istilah “seni” dan “seni rupa” dalam Bahasa Indonesia ternyata harus dikecualikan. Kedua istilah ini bisa dipadankan dengan istilah “art”. Seperti istilah “art” kedua istilah dalam Bahasa Indonesia ini tidak bisa ditemukan padanannya pada 300 kebudayaan ethnik di Indonesia yang menggunakan sekitar 500 dialek.

Kendati bisa dipadankan makna kedua istilah dalam Bahasa Indonesia itu tidak sama dengan makna istilah “art”. Gejala ini menunjukkan hadirnya persepsi dan ideologi seni yang tidak sama dengan persepsi dan ideologi seni di balik istilah “art”. Gejala ini yang sebenarnya dicari pemikiran yang sedang mempersoalkan perbedaan persepsi dan ideologi seni pada percaturan seni rupa dunia

Sebenarnya percaturan pemikiran itu (polemik di jurnal-jurnal teori seni di Amerika Serikat) sempat mengutip pikiran Adrian Vickers tentang Bali (dalam buku Bali: A Paradise Created). Namun polemik ini tidak sampai masuk lebih dalam ke persoalan istilah “seni” dan “seni rupa” dalam Bahasa Indonesia, karena Adrian Vickers juga tidak menyadarinya.[3] Padahal penggalian perbedaan pengertian istilah “seni” dan istilah “art” sebenarnya bisa menerobos kemacetan.

Melihatnya melalui kajian linguistik istilah “art” dalam Bahasa Inggris menunjukkan gejala kata benda yang nyaris absolut. Istilah ini senantiasa digunakan sebagai kata benda dan selalu sebagai subyek (tidak pernah dalam bentuk lain). Pengertiannya, memang “seni rupa”. Pengertian work of art dalam Bahasa Inggris, misalnya, tidak lain adalah “karya seni rupa”, bukan “karya seni”.

Dalam bentuk jamak yaitu arts atau The Arts, istilah “art” digunakan untuk menunjuk seni musik, seni tari dan seni teater. Gejala ini menunjukkan persepsi yang melihat kedudukan seni rupa lebih tinggi dari ungkapan seni yang lain dan diyakini merupakan patokan (standar) untuk memahami semua ekspresi seni. Karena itu istilah “art” punya pengertian “seni” (hal mendasar) dan sekaligus “seni rupa” (bentuk ungkapan).

Istilah “seni rupa” dalam Bahasa Indonesia mempunyai struktur kebahasaan yang berbeda. Istilah ini terdiri dari dua kata (“seni” dan “rupa”). Seperti “art”, kata “seni” ini adalah kata benda. Kata “seni” juga punya kedudukan sebagai subyek (dalam kajian linguistik disebut head atau kepala).

Sementara itu kata “rupa” yang menerangkan subyek mempunyai kedudukan lebih rendah (dalam kajian linguistik disebut modifier atau pembentuk) Kata “rupa” ini bisa dilihat sebagai “ajektiva” (kata sifat yang menerangkan kata benda) dan bisa juga dilihat sebagai “adverbia” (kata kerja, kata sifat atau kata benda yang menerangkan kata benda).

Bila kata “rupa” itu dilihat sebagai ajektiva, pengertian “seni rupa” menjadi dekat dengan “art” dan bermakna “visual art”. Di dunia seni rupa kita pengertian ini paling umum dipegang. Pada percatruran seni rupa dunia sekarang ini kebetulan ada kecenderungan baru mengganti istilah “art” dengan istilah “visual art”.

Akan bila tetapi bila kata “rupa” dilihat sebagai adverbia, kata “rupa” ini berada pada posisi sejajar dengan sejumlah adverbia lain. Misalnya tari, teater, musik, sastra (semuanya kata benda) pada istilah-istilah “seni tari”, “seni teater”, “seni musik”, “seni sastra”. Sejajar pula dengan adverbia melukis, memasak, bercinta, mengukir dan membela diri (semuanya kata kerja) pada istilah-istilah “seni lukis”, “seni memasak”, “seni bercinta”, “seni ukir” dan “seni bela diri”.

Gejala ini menunjukkan persepsi seni yang melihat seni rupa tidak lebih tinggi dari seni lainnya (seni tari, seni musik, seni sastra). Seni rupa merupakan salah satu bentuk pada ungkapan seni dan bukan patokan untuk memahami ekspresi seni

Dari kajian itu bisa dirasakan, kata “seni” merupakan kata benda abstrak yang punya pengertian “kepekaan”. Seni dalam persepsi ini tidak mempunyai bentuk dan baru berbentuk setelah tampil sebagai ekspresi seni. Kepekaan seni inilah yang merupakan patokan (standar) semua ekspresi seni pada proses pengungkapan mau pun pada pembacaan karya seni.

Pengertian semacam itu tidak ada pada istilah “art”. Seni (kepekaan) pada persepsi seni Barat dibahas sebagai pengalaman estetik (aesthetic experience). Sementara penilaian kadar seni (art) dilakukan dengan pengkajian karya-karya seni rupa melalui penyusunan sejarah seni rupa (art history).

Berdasarkan persepsi itu sejarah seni rupa merupakan keynote perkembangan seni pada kebudayaan Barat (sejak Abad ke 19). Bukan estetika atau ilmu keindahan (aesthetics) yang tampil juga dengan format filsafat seni (philosophy of art) atau teori-teori seni (theories of art). Bila dibandingkan dengan persepsi seni di balik istilah “seni” justru pemikiran-pemikiran pada estetika, filsafat seni dan teori-teori seni ini yang seharusnya menjadi keynote perkembangan ekspresi seni.

Melihat perbedaan persepsi itu segera bisa disimpulkan tidak mungkin menggunakan sejarah seni rupa sebagai patokan (standar) untuk memahami ekspresi seni rupa di Indonesia. Apalagi menjadikan sejarah seni rupa keynote perkembangan seni secara umum (semua seniman Indonesia bisa dipastikan merasakannya). Kesimpulan yang cukup jelas ini bertumpu pada pemahaman istilah “seni” dalam Bahasa Indonesia.

Pertanyaannya kemudian, apakah keistimewaan Bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa di lingkungan kebudayaan non-Barat ? Mengapa Bahasa Indonesia yang dikembangkan dari Bahasa Melayu tidak bisa dikaitkan dengan sesuatu kebudayaan ethnik ?

2. Genealogi “seni” dan “seni rupa”

Dalam kajian post kolonial (post colonial studies) Republik Indonesia adalah sebuah negara post kolonial (post colonial state), yaitu negara yang wilayahnya sama dengan wilayah jajahan pada masa kolonial. Gejala ini menunjukkan Bangsa Indonesia bukan sesuatu suku bangsa atau sesuatu ras bangsa yang melepaskan diri dari penjajahan. Negara dan Bangsa Indonesia terbentuk dan lahir pada masa kolonial berdasarkan pikiran-pikiran modern.

Melihatnya melalui kajian post-kolonial itu, Bangsa Indonesia tidak lahir tiba-tiba pada awal Abad ke 20 – dipercaya berawal pada Kebangkitan Nasional,1908 dan menjadi kesadaraan eksplisit pada tahun 1928 melalui Sumpah Pemuda. Konsep Bangsa Indonesia muncul melalui perjalanan panjang selama satu Abad melalui proses yang dalam kajian post kolonial diidentifikasi sebagai “translasi budaya”.

Dalam konteks modernisasi, translasi budaya tidak sama dengan pengkopian (copying) konsep-konsep modern atau penggunaan cetak biru (blue print) konsep-konsep modern untuk membangun sesuatu dunia modern. Translasi budaya senantiasa menampilkan transformasi yang menghadirkan perubahan-perubahan yang menisbikan orisinalitas dan esensi. Keutamaan bisa berubah pada proses ini.

Translasi budaya itu berperan dalam memunculkan Negara dan Bangsa Indonesia. Porses ini mendasari perbedaan persepsi di antara masyarakat pribumi dan masyarakat kolonial Belanda ketika mencerna pemikiran-pemikiran modern.

Dari proses itu muncul di kalangan pribumi pemahaman berbeda tentang hak-hak masyarakat madani (civil society) ketika kota-kota mulai berkembang di zaman kolonial. Muncul juga konsep Indonesia yang sama sekali berbeda dari konsep Indonesia yang dikemukakan dua ethnolog Inggris, G.W. Earl dan J.R. Logan pada tahun 1850. Lahir juga pemaknaan nasionalisme yang tidak sama dengan makna orisinal nasionalisme yang dikemukakan oleh Ernest Renan pertama kali di Universitas Sorbone, Prancis pada 1882.

Dari proses translasi budaya semacam itu muncul kebudayaan Klasik Jawa pada awal Abad ke 19. Kebudayaan ini tidak bisa dilihat sebagai kebudayaan asli Jawa. Kebudayaan ini dibentuk pemerintah kolonial Belanda bersama Javanolog Belanda dan bangsawan-bangsawan Jawa .Dasar pertimbangannya adalah politik kolonial (pusat kekuasaan pemerintah kolonial Belanda pada Abad ke 19 berada di Jawa Tengah). Kebudayaan klasik Jawa ini harus dilihat sebagai kebudayaan mestizoh (campuran) yang berkembang terutama di kota-kota kolonial.

Perkembangan kebudayaan mestizoh itu pada kenyataannya tidak bisa dikendalikan politik kolonial. Penyerapan pemikiran-pemikiran modern pada kebudayaan mestizoh ini membangkitkan pemikiran kritis yang justru tidak direncanakan politik kolonial. Lahir dari kebudayaan mestizoh ini gagasan tentang Indonesia sebagai bangsa, kesadaran nasional dan kemudian konsep Republik Indonesia.

Dari proses translasi budaya, Kebudayaan Klasik Jawa itu melahirkan istilah kagunan yang pengertiannya identik dengan “seni”. Istilah ini bisa ditemukan pada kamus Bahasa Jawa Tinggi, Baoesastra Jawa.[4]

Tidak bisa dipastikan kapan istilah itu muncul (belum ada penelitian sejarah atau penelitian bahasa tentang istilah ini). Namun besar kemungkinan istilah ini lahir pada perkembangan Instituut voor het Javaansche Taal (Lembaga Bahasa Jawa) yang dibentuk di Surakarta pada 1833. Pada tahun 1840 lembaga ini dikembangkan Royal Academie, Delf dan Universitas Leiden menjadi Javanologie Instituut atau Lembaga pengkajian Javanologi.[5]

Melihat perkembangan lembaga itu sangat mungkin istilah kagunan lahir sekitar awal atau pertengahan Abad ke 19. Tanda yang menguatkan, istilah ini bisa ditemukan pada tulisan-tulisan pujangga Ronggowarsito (1802-1873). Perkiraan ini menunjukkan hal besar dan penting yaitu pembentukan istilah kagunan tidak dipengaruhi ideologi seni Barat yang waktu itu sedang dalam proses pembentukan juga.

Dasar-dasar ideologi seni Barat muncul pada akhir Abad ke 18 melalui tulisan filosof-filosof G.W.F.Hegel, Immanuel Kant, Max Scheler dan Schopenhauer tentang High Art. Ideologi seni Barat ini baru muncul dengan jelas pada pemikiran-pemikiran Kant tentang “fine art” (seni rupa) pada awal Abad ke 19.[6]

Maka telah terjadi perkembangan paralel. Pemaknaan dan pembentukan istilah kagunan terjadi pada saat bersamaan dengan pemaknaan dan pembentukan istilah art. Keduanya menggunakan sumber yang sama yaitu pemikiran pada kebudayaan Yunani kuno (500 s.m.) yang diterjemahkan ke Bahasa Latin.[7]

Istilah dalam Bahasa Yunani kuno yang menjadi sumber kedua istilah itu adalah mousikĕ technĕ. Pengertian istilah mousikĕ technĕ adalah aktivitas mental yang dibedakan dari aktivitas kerja secara fisik. Aktivitas mental ini dibedakan pula dari aktivitas berpikir rasional yang berhubungan dengan epistĕmĕ atau ilmu pengetahuan. ”Kata “mousikĕ” pada istilah ini mengandung pengertian “inspirasi” atau “dorongan rasa puisi”. Dasar istilah ini adalah kata technĕ yang pengertiannya adalah “pekerjaan yang berguna dan berfaedah”.[8]

Dalam Bahasa Latin istilah mousikĕ technĕ itu diterjemahkan menjadi “artes liberales”. Dari istilah ini muncul istilah-istilah liberal arts yang mendasari pemikiran tentang High Art, wacana yang dikenal memunculkan ideologi seni Barat pada Abad ke 19.[9]

Istilah kagunan lebih dekat dengan istilah mousikĕ technĕ. Gejala ini tercermin pada kesamaan pembentukan kedua istilah. Akar kata kagunan adalah “guna” yang pengertiannya dekat dengan pengertian “technĕ”. Dalam Baoesastra Jawa kata “guna” dicatat sebagai : watak, keahlian, kelebihan, hasil yang berfaedah, hasil yang berguna. Sementara itu kagunan dicatat sebagai: (1) Kepandaian; (2) “Pekerjaan yang berguna dan berfaedah”; (3) Pencurahan akal-budi melalui rasa keindahan.

Pengertian istilah “kagunan” itu adalah akar pengertian istilah “seni” dalam Bahasa Indonesia. Menimbang padanan istilah “seni” tidak bisa ditemukan pada dialek mana pun di Nusantara, pengertian kagunan bisa dipastikan merupakan satu-satunya referensi ketika Bahasa Indonesia muncul pada awal Abad ke 20 bersama Negara dan Bangsa Indonesia.

Pembentukan istilah “seni” dalam Bahasa Indonesia tidak bisa disangkal dipengaruhi juga peristilahan “art” (terlihat pada kehadiran terjemahan fine art dan pure art). Namun definsi istilah “seni” bisa dirasakan dekat dengan definisi kagunan.

Kedua definisi mempersoalkan pengungkapan keindahan melalui kecakapan (keterampilan mengolah bahasa ungkapan). Definisi seni dalam kamus Bahasa Indonesia dicatat sebagai : (1) Kecakapan membuat (menciptakan) sesuatu yang indah; (2) Sesuatu karya yang dibuat (diciptakan) dengan kecakapan luar biasa.

Kedua definisi menunjukkan pula, kagunan dan seni adalah kepekaan dalam merasakan keindahan dan merupakan sumber penciptaan karya seni.

Bagian dari definisi kagunan yang hilang pada definisi istilah “seni” adalah penyebutan seni (kepekaan) punya kaitan dengan “pencurahan akal budi”. Ini bagian penting untuk memahami ideologi seni Indonesia. Bagian yang hilang ini menunjukkan perspsi seni yang mengaitkan eksrepsi seni dan rasa keindahan dengan moralitas.

Persepsi seni itu berbeda dengan persepsi seni berdasarkan ideologi seni Barat. Dalam ideologi seni Barat – yang masih terasa pengaruhnya pada percaturan seni rupa dunia sampai sekarang – seni (art) diyakini berada di luar moralitas. Ekspresi seni pada ideologi ini dianggap bermakna apabila tampil sebagai abstraksi moralitas, abstraksi persoalan pada realitas dan konvensi-konvensi sosial.[10]

3. Manifesto.

Latar belakang pembentukan istilah ”seni” dan “seni rupa” pada uraian di atas belum luas diketahui di dunia seni rupa kita dan masih jauh dari kesadaran umum. Apalagi menjadi wacana. Namun belum tentu persepsi dan ideologi seni ini sama sekali tidak punya pengaruh.

Kendati tidak muncul sebagai kesadaran, persepsi dan ideologi seni itu bisa hadir sebagai “ keyakinan subversif ” khususnya di kalangan perupa (dan seniman lain). Hadir karena kesamaan pemaham dalam menangkap (merasakan) pengertian istilah “seni” dan “seni rupa” melalui rasa bahasa. Hadir karena kesamaan intuisi dan pengalaman (sebagai bagian dari proses budaya) dalam merasakan gejala seni.

Indikasinya, ekspresi pada karya-karya perupa Indonesia, dari yang subtil sampai yang bermuatan politik, dari yang bergejala modernis sampai yang bergejala kontemporer, senantiasa bisa dikaitkan dengan moralitas.

Sampai sekarang perupa Indonesia cenderung menenggelamkan keyakinan subversif itu karena merasa keyakinan ini sering dicurigai sebagai pencarian batas-batas eksklusif dalam pembacaan. Dalam wacana sejarah seni rupa keyakinan ini bahkan dilihat sebagai kontra-narasi yang memperlihatkan dislokasi.

Genealogi (pengkajian sejarah asal muasal) istilah-istilah “seni” dan “seni rupa” menunjukkan prasangka itu sama sekali tidak benar. Genealogi ini tidak bermuara pada incommensurability thesis (keyakinan yang melihat kesenian dalam bingkai “culture of the other” tidak bisa dibaca tanpa pememahaman konteksnya). Maka pemahaman kedua istilah dalam Bahasa Indonesia ini tidak bisa dikaitkan dengan eksklusivisme dan relativisme.

Melihatnya dalam wacana seni rupa kontemporer pemahaman kedua istilah itu merupakan bagian inklusif perkembangan seni rupa dunia. Pemahaman kedua istilah dalam Bahasa Indonesia itu tidak menisbikan perkembangan seni rupa dunia yang sudah terjadi dan pengaruhnya di dunia non-Barat.

Pemahaman itu mendasari penyerapan bahasa rupa modernis pada perkembangan seni rupa Indonesia Abad ke 20 (membuat karya-karya “seni rupa modern Indonesia” tidak dipahami di percaturan seni rupa internasional karena dianggap memperlihatkan dislokasi). Pemahaman itu pula yang mendasari kesadaran multi-kultur yang tercermin pada ekspresi karya-karya seni rupa kontemporer Indonesia yang sekarang ini sedang memasuki percaturan seni rupa dunia.

Pemahaman istilah “seni” dan “seni rupa” itu secara mendasar menunjukkan perlunya membangun kesadaran tentang perbedaan persepsi akibat translasi budaya pada percaturan seni rupa dunia. Menunjukkan, bahwa kesadaran multi-kultur tidak bisa dicari dasaranya melalui pengkajian kebudayaan-kebudayaan ethnik. Dasar kesadaran multi-kultur ini harus dicari pada akibat translasi budaya yang muncul di sekitar Abad ke 19 (awal kebudayaan-kebudayaan non-Barat menyerap pemikiran-pemikiran modern yang lahir di dunia Barat).

Menghadapi ketidak-pahaman di percaturan seni rupa dunia – karena kurangnya informasi tentang dunia non-Barat – pemahaman seni dan seni rupa di Indonesia itu perlu ditegaskan sebagai contoh langka. Penegasan ini bisa dilontarkan di forum seni rupa dunia melalui pernyataan (manifesto) perupa Indonesia dalam bentuk pameran.

Manifesto itu tentunya memerlukan kesadaran eksplisit. Latar belakang pembentukan istilah “seni” dan “seni rupa” yang selama ini tersembunyi bisa berperan untuk mengangkat keyakinan yang tadinya subversif menjadi keyakinan yang sepenuhnya disadari. Bagi perupa Indonesia kesadaran ini bukan pemikiran baru. Kesadaran ini merupakan penegasan keyakinan yang sudah ada sebelumnya dan muncul ke permukaan melalui visi retrospektif tentang istilah “seni” dan “seni rupa”

Manifesto itu menjadi bingkai pameran besar seni rupa Indonesia bertajuk “Manifesto” di Galeri Nasional, Jakarta. Pameran besar ini diselenggarkan Galeri Nasional pada bulan Mei untuk memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional, 20 Mei (1908-2008).

Bingkai “Manifesto” pada pameran itu membuat para perupa yang ikut dalam pameran ini – mereka yang menjawab undangan Galeri Nasional dengan menyertakan karya dan pandangan – berperan dalam menegaskan persepsi dan ideologi seni Indonesia (identik dengan penanda-tangan manifesto).

Kendati diikuti hanya oleh perupa Indonesia dan menegaskan ideologi seni Indonesia, pameran “Manifesto” itu tidak sepenuhnya bisa dilihat berdasarkan politik identitas (identity politics).[11] Konteks “Manifesto” ini adalah percaturan pikiran tentang perkembangan seni rupa dunia, khususnya di masa depan.

“Manifesto” yang mencerminkan refleksi di dunia non-Barat itu – diharapkan berujung pada sebuah publikasi (buku) – bisa meluruskan padangan tentang pencarian dasar-dasar kesadaran multi-kultur pada percaturan seni rupa dunia. Bahkan bisa melahirkan premis pemikiran baru yang mengembangkan kesadaran multi-kutur menjadi kesadaran inter-kultur yang akan membuat perdebatan, polemik tentang dikhotomi Barat–Non-Barat sesungguhnya berakhir.

Jim Supangkat.

KETETAPAN PENYELENGARAAN KEGIATAN

  1. PESERTA
  • Peserta pameran adalah para seniman yang merepresentasikan perkembangan seni rupa Indonesia sejak generasi tahun 1960’an hingga kini.
  • Peserta pameran adalah seniman yang masih hidup.
  • Setiap peserta akan mendapatkan surat undangan resmi dari GNI
  • Peserta pameran adalah mereka yang mengembalikan Formulir Kesediaan yang telah dibubuhi tanda tangan.

  1. KURATOR

  • Jim Supangkat ( Kurator Indepanden, Bandung )
  • Rizki A. Zaelani ( Kurator GNI; FSRD ITB, Bandung
  • Farah Wardani ( Kurator Independen; IVAA, Jogjakarta)
  • Kuss Indarto ( Kurator GNI, Jogjakarta )

  1. KARYA
  • Karya yang dipamerkan adalah karya terbaik pilihan seniman yang mencerminkan pencapaian artistik masing-masing peserta, dan dianggap paling berkaitan dengan tanggapan seniman terhadap undangan kuratorial
  • Karya yang dipamerkan adalah karya yang dibuat baru, maupun karya yang telah dikerjakan sebelumnya.
  • Tahun pembuatan karya tidak dibatasi.
  • Jika karya seniman yang dipamerkan adalah karya yang dipinjam (milik perorangan maupun kelompok), maka masing-masing peserta bersangkutan HARUS mengurus segala hal yang berkaitan dengan persoalan perizin dan jaminan.
  • Jika karya yang dipamerkan bukan milik peserta (karya yang dipinjam), maka keterangan tentang karya tersebut pada katalog pameran HANYA akan dijelaskan dengan keterangan ‘MILIK PRIBADI’ (PRIVATE COLLECTION).
  • Menimbang batas ketersediaan ruang, kami sarankan ukuran karya yang dipamerkan maksimal berukuran 300 x 300 cm. Ukuran karya instalasi tidak melebihi pemakaian ruang seluas 300 x 300 x 300(t) cm. Usulan karya dengan ukuran khusus, akan disepakati melalui dialog kuratorial. Menimbang kepentingan presentasi karya, pihak kurator MEMILIKI HAK untuk membatasi ukuran karya.
  • Biaya pengerjaan karya adalah tanggung jawab setiap peserta.

  1. PENGEPAKAN & PENGIRIMAN KARYA
  • Setiap peserta pameran WAJIB mengerjakan pengepakan masing-masing karyanya secara baik. Kerusakan karya akibat pengepakan yang tidak baik adalah tanggug jawab pihak seniman yang mengirimkan karya.
  • Biaya pengiriman karya ke Galeri Nasioal Indonesia adalah tanggung jawab setiap peserta.
  • Galeri Nasional Indonesia bertanggung jawab mengirimkan kembali karya-karya yang dipamerkan kepada para peserta pameran berdasar pada data pengiriman karya yang diberikan oleh tiap peserta
  • Biaya pengiriman balik khusus untuk KARYA-KARYA DENGAN UKURAN BESAR DAN SPESIFIK adalah tanggung peserta yang bersangkutan.
  • Batas waktu PENGIRIMAN KARYA adalah 9 – 11 Mei 2008.
  • ALAMAT PENGIRIMAN KARYA adalah: PANITIA PAMERAN MANIFESTO

Galeri Nasional Indonesia

Jl. Medan Merdeka Timur no.14 Jakarta Pusat (kode pos 10110 Tel: 021-34833955 / fax: 021-3813021

(Contact Person: Eddy Soesilo /mobile: 08161340103 / fleksi:021-32529279)

  1. DISPLAY KARYA
  • Pengaturan dan pemasangan karya-karya adalah hak dan tanggung jawab kurator pameran.
  • Karya-karya dengan cara pemasangan khusus HARUS dilengkapi gambar kerja atau gambar panduan pemasangan karya.
  • Karya-karya dengan ALAT BANTUAN PRESENTASI KHUSUS (misalnya monitor, alat proyeksi, alat audio-visual, komputer, dll) disiapkan dan disediakan oleh masing-masing peserta yang bersangkutan.

  1. KATALOG
  • Galeri Nasional Indonesia akan mencetak dua jenis katalog, yaitu katalog yang bisa disebarkan secara cuma-cuma serta katalog yang akan dipublikasikan dan diedarkan ke publik melalui penjualan di toko-toko buku.
  • Katalog pameran (katalog tipis) disusun dalam keterangan dan penjelasan bahasa Indonesia; katalog pameran khusus (katalog tebal) disusun dalam edisi dua bahasa (Indonesia & Inggris).
  • Setiap perseta WAJIB MEMBERIKAN KETERANGAN DATA DIRI dan keterangan lain yang dibutuhkan (Data Vital Karya & catatan penjelasan konsep/ jika dianggap perlu). FOTO KARYA DIBUAT OLEH MASING-MASING PESERTA dengan resolusi gambar yang baik, untuk kepentingan pencetakan katalog pameran. Batas WAKTU PENYERAHAN DATA seniman adalah tanggal 17 Februari 2008. Batas WAKTU PENYERAHAN DATA GAMBAR adalah 31 Maret 2008.

ALAMAT PENGIRIMAN DATA (Biodata & Gambar):

PANITIA PAMERAN MANIFESTO’

Galeri Nasional Indonesia

Jl. Medan Merdeka Timur no.14 Jakarta Pusat (kode pos 10110)

Tel: 021-34833955 / Fax: 021-3813021/ email: galnas@indosat.net.id

(Contact Person: Indah /mobile: 0818917891)

KHUSUS peserta dari JAWA TENGAH & JOGJAKARTA, adalah:

PANITIA PAMERAN MANIFESTO’

Indonesian Visual Art Archive (IVAA)

Jl. Patehan Tengah No.37 Yogyakarta 55133

Tel: 0274-375247 / Fax: 0274-372095 / email: ivaa@ivaa-online.org

(Contact Person: Tina /mobile: 08174117519)

  1. PUBLIKASI & PROMOSI
  • Galeri Nasional Indonesia BERHAK menggunakan gambar/imej karya dari para peserta pameran untuk kepentingan publikasi dan promosi kegiatan.
  • Publikasi kegiatan pameran akan dilakukan melalui penyebaran bahan-bahan cetakan, seperti: katalog pameran, poster, dan undangan; serta bembuatan berbagai atribut publisitas kegiatan, sepert: spanduk, umbul-umbul, baligo.
  • Kegiatan promosi pameran dilakukan dengan cara melakukan kerja sama dengan pihak media massa cetak maupun elektronik (majalah, koran, TV).
  • Kegiatan jumpa press (press confrence) akan diselenggarakan pada hari Rabu tanggal 21 Mei 2008 / Pukul: 15.00 WIB di Galeri Nasional Indonesia.
  • Untuk mendukung promosi dan publikasi kegiatan pameran akan dicetak beberapa jenis MEMORIBILIA, seperti: kaos, tas, dll.

  1. PAMERAN & PERESMIAN PAMERAN

Ø Acara peresmian pameran akan diselenggarakan pada tanggal 21 Mei 2008; Pukul: 19.30 WIB di Galeri Nasional Indonesia.

Ø Acara peresmian pameran merupakan ACARA RESMI Departemen Kebudayaan dan Pariwisata – Republik Indonesia, yang akan diresmikan oleh pihak khusus yang akan ditetapkan kemudian.

Ø Peserta pameran yang bisa hadir dalam acara peresmian pameran akan mendapatkan tanda khusus (peserta).

  1. SEMINAR

Ø Kegiatan ‘MANIFESTO: Pameran Besar Seni Rupa Indonesia’ akan dilengkapi kegiatan seminar yang bisa diikuti para peserta pameran maupun publik luas.

Ø Seminar akan mengetengahkan persoalan seni rupa Indonesia dalam kaitannya dengan dasar-dasar masalah yang membentuknya hingga kini, yang akan mengundang para pembicara diantaranya (dalam proses konfirmasi kesediaan): Bambang Sugiharto, ST Sunardi, Jim Supangkat,Agus Burhan, dll

Ø Tema dan judul seminar masih dalam tahap pembahasan, dan akan segera dipublikasikan.

Ø Kegiatan seminar akan diselenggarakan pada hari Kamis, 22 Mei 2008, pukul: 09.00 – 17.00 WIB.

MEKANISME KURASI & TANGGAL PENTING

  1. Penetapan peserta melalui sidang kuratorial JANUARI 2008
  2. Pengiriman udangan pameran JANUARI 2008
  3. Pengembalian Formulir Kesediaan 29 FEB 2008
  4. Pengumpulan Data-data Peserta

Batas akhir pengumpulan biodata data 29 FEB 2008

Batas akhir pengumpulan gambar karya 31 MARET 2008

  1. Seleksi & diskusi karya dengan kurator FEB – MRT 2008

(jika dianggap perlu untuk kepentingan presentasi karya)

  1. Pengemasan karya oleh masing-masing peserta
  2. Pengiriman karya ke GNI oleh masing-masing peserta 9 – 11 MEI 2008
  3. Pengkajian karya oleh kurator
  4. Penulisan dan pencetakan katalog pameran
  5. Proses display karya 12 – 19 MEI 2008
  6. Pembukaan Pameran 21 MEI/19.30 WIB
  7. Seminar 22 MEI 2008
  8. Pameran 22 MEI – 14 JUNI
  9. Pembongkaran display karya 15 JUNI 2008
  10. Pengiriman balik karya kepada peserta oleh GNI 17 – 23 JUNI 2008


[1] “Non-Western Art and Art’s Definition.” Stephen Davies. Dalam Theories of Art Today. Nöel Carroll (ed.). The University of Wisconsin Press. Madison, Wisconsin., 2000. hal.202-205.

[2] “But They Don’t Have Our Concept of Art”. Denis Dutton. opcit. hal.225-233.

[3] “Non-Western Art and Art’s Definition.”. ibid. hal 203.

[4] Pigeaud,Th.(et.al). Baoesastra Jawa. JB Wolters. Groningen –Batavia, 1939. Catatan: W.J.S. Poerwadarminta, penyusun Kamus Umum Bahasa Indonesia (diterbitkan pertama kali pada tahun 1952) termasuk salah seorang penyusun kamus Bahasa Jawa Tinggi ini.

[5] Kristanto, J.B. (ed.) Seribu Tahun Nusantara. Kompas Gramedia, Jakarta, 2000. Lihat bagan perkembangan waktu (lampiran).

[6] Munro, Thomas. The Arts and Their Interrelations. The Press of Case Western Reserve University. London. 1969. hal. 26-46.

[7] Pada perkembangan kebudayaan Barat adaptasi pemikiran Yunani kuno merupakan embrio pemikiran-pemikiran modern Abad ke 19. Perkembangan paralel ini menandakan embrio pemikiran modern sudah muncul juga di Nusantara pada Abad ke 19.

[8] The Arts and Their Interrelations. ibid.

[9] Ibid.

[10] “Non-Western Art and Art’s Definition.”. ibid. hal 201.

[11] Politik identitas tidak sama dengan pencarian identitas. Identity politics berkaitan dengan upaya pada pemikiran di dunia non-Barat meluruskan padangan yang salah tentang dunia non-Barat di dunia internasional.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: