Mimpi Dua Italia di Ranah Grafis

UNTUK menikmati sebuah karya seni, terkadang kita menuntut bentuk utuh yang harmonis. Tapi, dalam karya grafis, kata kurator seni Achille Bonita Oliva, kita justru diajak menikmati ketidakutuhan itu. Maka, ketika menyaksikan karya seniman Lucio Fontana, alam imajinasi kitalah yang berbicara.

Dibuat pada 1968, karya berjudul Senza Titolo (Suite of Six) itu menyajikan gambar lingkaran besar hitam di atas kertas putih. Lingkaran hitam besar itu terpotong guratan-guratan tipis memanjang. Tonjolan dan lubang-lubang kecil bekas cukilan tampak mengitarinya.

Pengalaman serupa kita rasakan ketika melihat karya Alberto Burri, yang diciptakannya pada 1965. Melalui karya bertajuk Combustione 2, Burri menyajikan efek kertas dengan lubang besar kehitaman bekas terbakar di bagian tengahnya. Pada zamannya, ini eksperimen yang sangat berani.

Dua karya seniman Italia yang dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, pada 4-24 Juni itu mengawali sejarah berkembangnya seni grafis di Italia. Karya itu sekaligus menandai eksisnya percetakan 2RC di Roma, yang didirikan dua saudara Valter dan Eleonora Rossi serta sepupu mereka, Franco Cioppi, pada 1959. Niat mendirikan percetakan didasari keyakinan bahwa seni grafis sesungguhnya adalah satu cabang seni rupa seperti halnya seni lukis atau seni patung. Mereka bermimpi membuat percetakan itu sebagai bengkel kerja yang tak cuma bisa mengembangkan beragam teknik grafis, tapi juga memberikan kebebasan kepada para seniman untuk menuangkan ide-ide gila mereka.

Pendekatan Lucio Fontana terhadap penggunaan material, pemotongan, dan pelubangan pada lembaran linoleum, mewakili bentuk percobaan konsep-konsep ruang yang baru. Begitu pula dengan karya Alberto Burri, yang sudah beberapa kali dicetak ulang sejak 1962 hingga 1983. Efek terbakar diciptakan dengan menggunakan asam plastik transparan dan warna-warna beragam. Lewat karya ini juga diperkenalkan material cretti (celah pada permukaan lukisan) di atas kertas melalui teknik grafir (engraving) dan aquatint (menggunakan asam untuk mencetak) yang terperinci dan tak lazim. “Ini adalah grafir yang paling mendekati lukisan, bahkan hampir menimbulkan kerancuan,” tutur Vittorio Rubio, salah seorang seniman Italia.

Tak mengherankan bila kemudian banyak seniman yang tertarik berkolaborasi dengan percetakan ini. Selain Fontana dan Burri, selama kurun 1962 hingga 1969, sejumlah seniman turut mencetak karyanya bersama 2RC. Gio Pomodoro, Giuseppe Capograssi, Piero Dorazio, Pietro Consagra, Achille Perilli, dan Adolph Gottileb adalah beberapa di antaranya. Belakangan, pada 1969, UNESCO menugasi Rossi bersaudara untuk membuat karya grafis dan berkolaborasi dengan berbagai seniman ternama di dunia.

Dari situlah mimpi mereka untuk bekerja sama dengan seniman kelas dunia seperti Eduardo Chililda, Arnaldo Pomodoro, Victor Pasmore, Louse Nevelson, dan Pierre Alechinsky terwujud. Konsep 2RC selanjutnya berubah, bukan lagi seniman yang pergi ke percetakan, melainkan percetakanlah yang mendatangi kediaman para seniman. Maka menjelajahlah Rossi dari Roma, Bodrum (Turki), Menton (Prancis), Palma di Majorca (Spanyol), hingga Los Angeles, Point Race, dan New York, (Amerika Serikat). Kemampuan mereka memproduksi seni grafis dalam format dan teknik yang tak umum juga menarik perhatian kolektor pribadi dan museum.

Karya fantastis hasil kolaborasi para seniman dan dua maestro percetakan Italia itulah yang bisa kita saksikan di ruang pamer Galeri Nasional. Pameran ini merupakan bagian dari rangkaian pameran bertajuk Doppio Sogno dll’Arte-2RC tra artista e artefice (Mimpi Ganda Sebuah Seni-2RC antara Seniman dan Pencipta). Sejak 2007, pameran ini telah bergulir di Eropa (Tirano, Italia; Moskow, Saint Petersburg, Rusia; Beograd, Serbia); Amerika Serikat (Chicago, Indianapolis, San Francisco), dan Asia. Pada 2009 pameran ini singgah di Beijing (Central Academy of Fine Arts), Shenyang (Luxun Academy of Fine Arts), dan di Seoul (Museum of Art, sampai April 2010).

Selain Galeri Nasional, pameran digelar di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung (29 Mei-22 Juni 2010), dan Sangkring Art Space, Yogyakarta (11-20 Juni 2010). Tak kurang dari 145 karya grafis-termasuk etsa, aquatint, litografi, serta embossing-dan delapan piringan tembaga akan dipamerkan di tiga tempat itu: History, berisi karya para seniman yang mewarnai sejarah awal 2RC di Galeri Nasional; The Avant-Garde, menampilkan karya-karya seniman yang menghidupkan semangat avant-garde di Selasar Sunaryo Art Space; dan The American and British Artist, berupa karya seniman Amerika dan Inggris di Sangkring Art Space. “Untuk mendapat gambaran menyeluruh, Anda harus melihat pameran di tiga kota itu,” ujar Duta Besar Italia Roberto Palmieri.

Melalui pameran yang digelar Kedutaan Besar Italia bekerja sama dengan Kamar Dagang Italia, Pusat Kebudayaan Italia, dan Biasa Artspace itu, petualangan 2RC dipaparkan dengan ideal. Berawal dari pembakaran dan cretti Alberto Burri yang dipamerkan di Jakarta, beralih ke bentuk biologis yang ditawarkan Victor Pasmore atau figur-figur Henry Moore dan potret George Segal yang ditampilkan di Yogyakarta, hingga Transavanguardia karya Enzo Cucchi dan Francesco Clemente yang ditampilkan di pameran di Bandung.

Pameran yang dikurasi Achille Bonito Olivo-kritikus seni grafis dan profesor sejarah seni terkemuka Italia-itu memberikan pengalaman visual yang mengilustrasikan penelitian kolaboratif yang dilakukan oleh studio percetakan seni 2RC. “2RC tidak hanya sebagai tempat produksi, tapi juga sebagai tempat kreativitas sang seniman dan maestro grafir bersatu padu,” kata Livia Raponi dari Institut Kebudayaan Italia, Jakarta.

Pameran seni grafis ini mengajak kita menyusuri kembali sejarah seni kontemporer, khususnya seni grafis, sejak setengah abad lalu. Kata Achille Bonito Olivo, sang kurator, “Karya-karya yang dipamerkan mewakili pusat pertemuan sejarah seni kontemporer dari 1960-an sampai hari ini. Sebuah tradisi kreativitas Italia.”

Nunuy Nurhayati

(diunduh dari http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/06/14/SR/mbm.20100614.SR133783.id.html)


Leave a comment

Menyoal Hegemoni Pasar

PASAR adalah implikasi dari tindakan mengonsumsi. Begitu semestinya. Pasar, dalam pengertian semacam itu, merupakan akibat dari adanya pertemuan antara penawaran dan permintaan yang mendasar pada kebutuhan. Dalam pemahaman inilah pasar bukanlah sesuatu yang diniatkan karena memang penawaran dan permintaan merupakan dua hal yang sudah menjadi niscaya. Hanya, lain perkaranya ketika penawaran dan permintaan itu timbul karena kebutuhan yang diciptakan oleh pasar itu sendiri. Pasar telah mengubah kebutuhan menjadi keinginan untuk sekadar mengonsumsi tanpa pemahaman yang lebih jauh ihwal sesuatu yang dikonsumsi itu.

Pasar akhirnya dipenuhi oleh berbagai kepentingan yang serbapragmatis. Produksi, distribusi, dan konsumsi tidak lagi menjadi elemen-elemen yang membentuk pasar, melainkan ketiganya dibentuk oleh pasar. Di dalam pasar semacam ini, seluruh infrastruktur dikondisikan, bahkan dikendalikan oleh sejumlah kepentingan yang melulu mencari untung. Pragmatisme dan mencari untung tampaknya memang telah menjadi tabiat pasar. Akan tetapi, ketika keduanya melulu menjadi tujuan, pasar telah berubah menjadi panglima. Ia telah menjadi sebuah hegemoni yang menggerakkan produksi, distribusi, konsumsi, dan segenap infrastruktur di dalamnya, menjadi demikian dangkal. Terlebih pasar itu menautkan dirinya pada apa yang disebut dengan karya seni.

Inilah pasar yang membayangi perkembangan mutakhir seni rupa Indonesia. Pasar yang menjadi panglima dan hegemoni di tengah kondisi medan sosial seni yang tunaacuan. Museum, galeri, balai lelang, seniman, kurator, kritikus, kolektor, media, berada dalam situasi yang tumpang tindih. Pragmatisme galeri komersial, balai lelang yang dianggap main serobot, kurator yang gagal yang melihat kelebihan seniman karena lebih asyik dengan berbagai teori, seniman yang gagap mengartikulasikan kesenimanannya, dan snobisme para kolektor yang mengoleksi berbagai karya hanya karena telinga ketimbang menggunakan mata.

Demikian sekelumit perbincangan yang mengemuka dalam dua sesi diskusi “Seni Rupa Indonesia Dalam Hegemoni Pasar” di Platform 3 Bandung, Jumat (11/6). Diskusi ini menghadirkan pembicara Edwin Rahardjo dari Edwin`s Gallery, Amalia Wirjono (Balai Lelang Cristie`s), Heri Dono (seniman), Hendro Wiyanto (kurator), dengan moderator Agung Hujatnikajenong.

Meski masih menyoal perkara lama, diskusi ini menarik bukan karena menghadirkan dua pembicara yang dianggap sebagai representasi dari dua institusi yang selama ini saling berhadapan dalam pasar seni rupa Indonesia, yakni, galeri dan balai lelang. Namun, diskusi yang dihadiri oleh seniman dan para kolektor ini mengemuka dalam berbagai lalu lintas pemikiran yang saling bersilangan, seraya mencoba mengurai antara kondisi yang ideal dan kenyataan yang berlangsung.

**

DENGAN pembicara Edwin Rahardjo dan Amalia Wiyanto, sesi pertama membawa diskusi pada kenyataan yang terjadi dalam ruang-ruang infrastruktur seni rupa. Dari mulai balai lelang, galeri, hingga kolektor. Sesi ini menarik karena menghadapkan dua institusi yang dalam pasar seni rupa Indonesia diam-diam menjadi kompetitor. Booming pasar seni rupa Indonesia yang menggiurkan, dianggap telah membuat sejumlah balai lelang bermunculan. Dan watak apresiasi suatu karya di balai lelang cenderung tidak pada kualitas karya, melainkan pada siapa yang meminatinya. Harga amat ditentukan oleh apresiasi publik, bukan oleh kualitas karya itu sendiri. Kondisi ini diperparah oleh minimnya tingkat apresiasi para kolektor sehingga mereka mengoleksi suatu karya dengan rujukan pada siapa yang telah mengoleksi karya tersebut.

Kenyataan ini mau tak mau mengganggu fluktuasi harga yang tentu saja membuat tidak nyaman sejumlah galeri. Padahal idealnya galeri merupakan primary market, dan balai lelang adalah secondary market, atau dalam bahasa Edwin Rahardjo hanya menjual barang bekas.

Kondisi infrastruktur semacam inilah yang hendak diurai. Meski sayup-sayup Edwin Rahardjo memandang bahwa balai lelang menyebabkan rancunya standarisasi harga yang melulu berdasarkan apa yang disukai publik, tetapi ia juga menegaskan betapa kondisi yang terjadi demikian tumpang tindih. Jika di negara maju museum merupakan salah satu acuan, maka di Indonesia tak ada acuan yang jelas untuk menilai kualitas sebuah karya. Belum lagi perilaku kolektor di Indonesia juga tak bisa dilepaskan dari masalah pendidikan seni di negeri ini.

“Kendala lain dalam pasar seni rupa adalah minimnya informasi seni, belum lagi kolektor yang belum memiliki tradisi membaca,” ujarnya.

Seolah mengimbangi pandangan Edwin yang mengarah pada kesan bahwa balai lelang telah menjadi sebab kian rendahnya apresiasi para kolektor, Amalia Wirjono menyebutkan bagaimana Cristie`s pernah menghadirkan Tan Boon Hui (Direktur Singapore Art Museum), Patrick Flores (sejarawan seni Filipina), dan Mella Jarsma (seniman). Mereka dihadirkan bukan hanya untuk memperluas jaringan kolektor, tetapi juga mengarahkan para kolektor untuk belajar ihwal perkembangan seni.

Primary market dan secondary market, seperti yang banyak diurai oleh Amalia sebenarnya adalah kategori yang mapan, untuk tidak menyebutnya ideal. Akan tetapi, di Indonesia batasan kedua kategori itu menjadi bias. Museum yang semestinya menjadi acuan nyatanya belum bisa diharap banyak. Dan selama lima tahun terakhir ini pasar seni rupa Indonesia fluktuasinya turut naik karena didorong munculnya berbagai balai lelang. Inilah situasi spesifik yang tidak terjadi di negara lain.

Sejumlah tanggapan pun mengemuka dan saling mengkritisi. Andono, misalnya, melihat bahwa situasi tumpang tindih ini juga terjadi di negara lain. Museum dan bienalle tidak lagi menjadi acuan, tapi telah bergeser ke art fair.

Demikian juga Syafik Sungkar yang mempertanyakan penjelasan Amalia yang menyebut Cristie`s sebagai secondary market, yang pada kenyataannya melelang karya Masriadi yang langsung diambil dari senimannya. Sementara Rudi St. Dharma langsung mempertanyakan posisi hubungan galeri dan balai lelang, antara harmonis dan kompetitor.

Sayangnya, menanggapi pertanyaan tadi, jawaban Amalia terkesan normatif. Hal itu bisa dimaklumi karena ia dalam beberapa hal tidaklah sepenuhnya menjadi representasi dari lembaga raksasa seperti Balai Lelang Cristie`s. Ia menyatakan, hubungan galeri dan balai lelang berlangsung baik karena memang begitulah semestinya. “Apakah galeri kompetitor balai lelang? Bukan, karena tugas kami berbeda,” ujarnya.

Dan inilah yang ditampik Edwin dengan menyebut kondisi yang disebut Amalia itu hanya terjadi dalam kondisi yang ideal. “Cuma kita kan sekarang tidak dalam kondisi ideal. Semua sekarang semrawut. Peran galeri pun jadi sulit,” katanya.

**

JIKA sesi pertama menggiring situasi infrastruktur pasar seni rupa pada hubungannya dengan sejarah seni rupa Indonesia, sesi kedua mengemuka dalam perbincangan ihwal hubungan seniman, kurator, dan galeri. Dalam sesi dengan pembicara Heri Dono dan Hendro Wiyono ini terjadi suasana yang saling mengkritisi antara kurator dan seniman. Ini sudah terasa sejak pembicara Heri Dono usai memaparkan pandangannya, yang oleh Hendro Wiyono disebut tak ubahnya dengan artist talk ketimbang berbicara sesuai dengan term of reference diskusi.

Meski setengah berseloroh, Hendro Wiyono mulai melontarkan pandangan-pandangan yang kritis sekaligus provokatif yang diarahkan pada seniman dan galeri. Seraya menyebut pasar bisa mendorong perkembangan lebih jauh, tetapi 99 persen karya seniman Indonesia tidak layak masuk balai lelang.

“Hampir tiap minggu saya terima banyak buku dan majalah balai lelang. Satu dua halaman yang karyanya bagus saya copot, selebihnya saya buang ke tempat sampah,” ujar Hendro yang pemaparannya banyak mengundang gelak tawa.

Pada bagian lain ia mengungkapkan betapa banyaknya seniman di Indonesia yang tidak bisa membuat pernyataan ihwal kerja keseniannya. “Aminuddin TH Siregar pernah mengatakan lima menit ngomong dengan seniman itu sudah membosankan. Saya kira mungkin benar. Coba anda ingat, sebutkan sepuluh pernyataan seniman tentang kerja keseniannya yang bisa diingat di luar kepala. Hampir tidak ada. Seingat saya hanya pelukis S. Teddy yang pernah mengatakan, melukis adalah menggambar yang disederhanakan dan dirumitkan,” tuturnya.

Tanggapan terhadap pemaparan Hendro muncul dari Syafik Sungkar, Adeuw, Carla, dan Edwin yang balik mengkritisi kerja para kurator. Alih-alih mengangkat kelebihan seorang seniman, banyak kurator lebih memamerkan teori-teorinya yang sering tak ada hubungannya dengan karya yang dikurasi.

“Tulisannya di katalog pun akhirnya tidak membuat orang jadi lebih pintar. Coba Anda sebutkan satu saja pernyataan kurator yang bisa kami ingat!” ujarnya yang disambut gelak dan tepuk tangan.

Senada dengan Carla, Syafik Sungkar menyebut pragmatisme curatorial yang diakui Hendro sebagai konsepnya tak lebih dari “penggaringan” curratorial. Tulisan kurator yang membingungkan di katalog justru menimbulkan pertanyaan, yang bodoh galeri atau kuratornya? Sementara Edwin menilai bagaimana sebuah galeri bisa maju jika para kurator sibuk mencari order.

“Kurator tidak mau tunduk pada galeri, begitu juga galeri, tidak akan tunduk pada keinginan kurator,” ujarnya seraya menyebut semua pihak dalam infrastruktur seni rupa Indonesia belum bekerja secara optimal.

Menanggapi “serbuan” itu, dengan tenang Hendro menyatakan, ia tidak bersikap sinis kepada pasar karena pasar bisa dimanfaatkan demi perkembangan seni rupa Indonesia. Akan tetapi, pasar harus tetap dikritisi karena tabiatnya yang pragmatis. Menyitir Mella Jarsma, ia mengatakan seni itu memberi, tidak meminta, tetapi pasar itu meminta dan tidak pernah memberi. (Ahda Imran)***

(diunduh dari http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=144149)

Leave a comment

Sistematika Rupa Made Budhiana

Minggu, 13 Juni 2010 | 04:00 WIB

OLEH WARIH WISATSANA

Bila ingin menyaksikan suatu kejutan visual dan kosa rupa yang sensasional, jangan datangi Maha Art Gallery di Sanur sebulan ini. Di ruang pameran terhampar di dinding sederetan kanvas yang di sana-sini dipenuhi torehan warna serta garis-garis bebas yang seakan begitu saja meluap dari kedalaman.

Garis-garis itu dan segugusan warna yang seolah berdiri sendiri, jika dicermati, akan membawa kita pada suatu pengalaman imajiner yang menyiratkan suasana alam dan wujud visual yang tak dikenal, tetapi terasa akrab, sekaligus imajinatif dan sugestif. Itulah karya-karya Made Budhiana, yang tengah berpameran tunggal mulai 26 Mei hingga 26 Juni 2010, menampilkan 29 lukisan berbagai ukuran, dari periode terdahulu, 1999, hingga yang terkini, 2010.

Berbeda dengan karya-karya perupa Bali umumnya, yang kerap merujuk pada ikon-ikon tradisi serta acuan identitas simbolis yang mengingatkan kita pada warisan kultural Bali, Budhiana hadir dengan suatu ekspresi yang terbilang personal. Meskipun kanvasnya, dalam karya-karya tertentu, dipenuhi oleh aneka unsur garis dan rupa-rupa maya yang tak terduga, tak dengan seketika mengingatkan kita pada suatu memori visual ala lukisan Bali.

Apakah ekspresi bebas nan otonom itu menunjukkan Made Budhiana, pelukis kelahiran Denpasar, 27 Maret 1959, ini tak berpijak lagi pada akar kulturnya? Ataukah karya-karyanya yang tergolong abstrak ini mencerminkan pelakunya semata hanyut terbawa arus seni modern serta kontemporer? Atau tepatkah, seperti disiratkan dalam buku biografi kreatifnya, Crossing the Horizon (Melintas Cakrawala), yang diluncurkan pada acara pembukaan, ditulis oleh Wayan Suardika, Budhiana adalah sosok penjelajah kreatif yang bersiteguh dengan pilihan estetiknya?

Rasionalitas

Memaknai karya-karyanya secara lebih utuh dan juga laku kreatifnya selama ini berbeda dengan anggapan yang mengemuka, nyatalah terbukti bahwa Made Budhiana bukanlah pelukis yang menyandarkan kreasinya terutama pada daya intuitif. Memang bila mengamati satu dua karyanya secara terpisah, seolah garis-garis ciptaannya yang dinamis dan bersifat non repetitif serta nonnaratif itu adalah suatu kespontanan yang memancar begitu saja dari dunia bawah sadarnya. Para pengamat kerap menyatakan hal itu sebagai suatu proses cipta yang khas Timur, sepenuhnya bersifat meditatif, di mana unsur-unsur rasionalitas memainkan peran yang amat minimal, atau dengan kata lain, seolah-olah nirkonsep dan nirpesan atau gagasan.

Namun, bila kita mengamati lebih dalam dan membaca tahapan-tahapan penciptaan Budhiana serta wujud visual yang ditampilkan pada kanvas dua dimensinya selama ini, tak dapat disangkal bahwa lukisan-lukisannya adalah buah penggalian pengetahuan secara sistematis. Pilihan sikapnya untuk undur diri dari Sanggar Dewata Indonesia sedini itu serta selalu menjadikan studio-studio pribadinya sebagai semacam ruang publik, tempat berkumpulnya aneka seniman dan intelektual dari berbagai latar kultur, adalah buah olah kesadarannya bahwa disiplin kreasi seni pada hakikatnya adalah sebentuk kerja laboratorium, di mana penciptaan jauh dari aksi spekulatif, tetapi penuh perhitungan dan pertimbangan.

Tidak mengherankan, meski awalnya berangkat dari pola rerajahan Bali, lukisan-lukisan Made Budhiana mengalami tahapan-tahapan evolusi yang terarah dan terkendali. Pilihan ekspresi abstraknya diraih dan dicapai melalui analisis diri yang intens. Berbeda dengan kebanyakan pelukis Bali segenerasinya, yang meski mengkritisi eksotisme, diam-diam menghadirkan dengan sepenuh sadar kebaliannya serta kerap tergelincir menjadi ekspresi pernyataan identitas yang artifisial, Budhiana kuasa melampaui godaan itu. Seni abstrak ditekuninya dalam rentang periode penciptaan yang terbilang panjang. Hal itu bukanlah kemapanan yang menyiratkan kemandekan, melainkan sebentuk pencapaian bahwa dirinya telah menemukan pilihan bahasa ekspresi yang otentik.

Dalam karya-karya belakangan, misalnya ”Melawan Angin”, atau ”Discussion”, terasa sapuan warna dan garis lebih bebas dan nyata. Ruang-ruang kosong yang dihadirkan menyiratkan bahwa Made Budhiana paham bagaimana ”makna” suatu karya sesungguhnya tidak sepenuhnya hasil olah rupa dari sang kreator, tetapi adalah hasil pertemuan atau dialektika dengan sang pemirsa. Ruang-ruang kosong, yang selalu hadir di antara garis-garis dan gugusan warna, selain merefleksikan kedalaman rasa yang sugestif sekaligus meditatif, juga mengantar imajinasi kita pada pengalaman yang melampaui rupa.

Budhiana memang teguh dengan pilihan bahasa estetiknya. Daya analisisnya yang tajam dan didukung oleh intensitas berkaryanya yang teruji, serta digenapi olah intuisinya yang terarah, mengantar dirinya bukan hanya pada pemahaman, melainkan penghayatan akan sesuatu yang ada di seberang kenyataan, yang bersifat transenden. Ekspresi abstraknya, sebagaimana Wassily Kandinsky, Mondrian atau para pendahulu lainnya, menunjukkan bahwa capaian karyanya adalah buah dari suatu kespontanan yang terlatih.

Warih Wisatsana Penyair Tinggal di Denpasar

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/13/04001956/sistematika.rupa.made.budhiana)

Leave a comment

Catatan dari Art Hongkong 2010: Ada Pasar, Ada Wacana

Dalam perkembangan seni rupa kontemporer global satu dekade terakhir, ada perubahan yang cukup signifikan berkaitan dengan peran pasar, terutama yang menyangkut dinamika pertumbuhan infrastruktur seni. Sejarah seni kontemporer Barat yang mapan dan punya perjalanan lebih panjang menunjukkan bahwa institusi-institusi yang terlalu mapan seperti museum dan galeri besar merupakan institusi yang ringkih terutama karena beban birokrasi dan kepentingan politis yang disandangnya. Banyak pihak mengatakan bahwa sesungguhnya museum-museum seni di Eropa dan Amerika telah gagal menjadi penopang infrastruktur yang utama. ‘keringkihan’ institusi semacam museum ini terutama juga menjadi jelas ketika krisis melanda, dan topangan dari donor dan lembaga pendana semakin tipis.

Dalam situasi yang serba terbatas dari institusi-institusi mapan, pasar, dengan cara tertentu, telah mengambil alih peran museum dan menjadikan dirinya sebagai peletaktolak ukur yang mempengaruhi seluruh insfrastruktur seni rupa global. Jika beberapa tahun lalu ukuran yang terlalu pasar dan komersil acapkali mendapatkan cibiran sinis dari mereka yang mengelola museum dan institusi non-komersial lainnya, maka dalam lima tahun terakhir ini pasar menunjukkan bagaimana ia menyerap seluruh diskursus dan pendekatan yang digunakan dalam ranah non komersial untuk mendapatkan derajad kewibawaan yang nyaris seimbang. Karenanya, peran peristiwa seni semacam Art Fair, sekarang ini hampir setara dengan peranan yang dijalankan oleh bienalle dan triennale internasional, terutama berkaitan dengan mempromosikan dan mengomunikasikan pencapaian dan dobrakan-dobrakan baru dalam perkembangan seni rupa global.

Akhir Mei 2010, tepatnya tanggal 27 hingga 30 Mei lalu, di Hongkong baru saja selesai penyelenggaraan peristiwa seni Art HK 2010. Fokus dari Art HK 2010 ini tentu saja adalah art fair, yang dengan demikian langsung merujuk pada pasar, dan, lebih khusus lagi, perdagangan karya seni. Jika demikian, yang menjadi tolak ukur keberhasilan tentu saja hal-hal yang berkaitan dengan angka: jumlah transaksi, prosentase penjualan, rekor harga, dan semacamnya. Reputasi sebuah art fair disebut baik jika angka-angka itu menunjukkan indeks yang tinggi, yang artinya peristiwa tersebut mampu mendatangkan dan merawat pasar untuk jangka waktu tertentu.

Dengan latar belakang pemahaman semacam ini, Art HK menjadi salah satu peristiwa seni (komersial) yang penting di Asia. Tahun 2010 ini saja tak kurang dari 150 galeri berpartisipasi, termasuk di dalamnya galeri-galeri yang disebut sebagai pemain utama dalam medan seni rupa dunia, yang menelurkan seniman-seniman besar seperti Andy Warhol, Damien Hirst, Takashi Murakami, ke wilayah pasar dengan harga-harga yang melambung tinggi. Sebut saja galeri kenamaan seperti White Cube dari London, Gagosian Gallery, Max Protecht Gallery dan James Cohan Gallery dari New York, atau Ota Gallery dari Tokyo. Galeri-galeri semacam mereka memberi panggung bagi tampilnya bintang seni rupa tadi pada audiens Asia. Di tahun 2010 ini, selain nama-nama klasik yang nyaris selalu ada di semua art fair besar di seluruh dunia, bisa disebut pula galeri seperti Arario (Korea), Marianna Goersky (New York), Pekin Fine Arts (Beijing), atau Osage (Hongkong/Singapura) yang menampilkan karya seniman seperti Yoshitomo Nara, Subodh Gupta, Tsang Kin Wah, Donna Ong, dan lain sebagainya. Dari Indonesia, tampil Ark Galerie, Langgeng Gallery dan Nadi Gallery menampilkan seniman mulai dari Agus Suwage hingga generasi termuda seperti Pramuhendra.
Karya-karya seniman Indonesia merupakan salah satu tampilan yang cukup menarik dalam Art Hongkong 2010 ini. J Ariadhitia Pramuhendra, yang tampil bersama Platform 3 dalam seksion khusus yaitu Art Future, mendapat cukup banyak perhatian melalui karyanya Ashes to Ashes. Banyak pengamat mengatakan bahwa karya Hendra pantas memenangkan kategori khusus sebagai penampil terbaik dalam kategori ini, yang pada akhirnya dimenangkan seniman senior Sazkia Shikander. Demikian pula karya dari Yuli Prayitno, The Tin(g) King, yang membuat orang banyak terkagum dengan imajinasi dan ketekunannya. Karya Eko Nugroho dan Agustinus Kuswidananto aka Jompet, dari booth Ark Galerie, juga mendapat banyak perhatian dari khalayak dan media massa karena unik dan berbeda dari booth-booth yang lain.

Yang menarik, meski mendasarkan ukuran-ukurannya pada angka ekonomis, sekarang ini ada kecenderungan bahwa art fair juga menjalankan strategi tertentu untuk mendapatkan kewibawaan diskursusnya. Mereka tak hanya mengundang galeri komersial, tetapi menawarkan kesempatan pada kurator-kurator untuk membuat proposal yang beriorientasi pada projek seni. Salah satu yang tampil dalam Art Hongkong 2010 ini adalah Rirkrit Tiravanija yang dipromosikan oleh curator Joseph Ng dari Tang Contemporary Art Bangkok. Karya Rirkrit untuk projek ini tampil dalam visualisasi yang serupa dengan karyanya yang dipamerkan di banyak museum atau biennale/trienale internasional lainnya.

Selain mengundang seniman berbasis projek, art fair juga menggelar serangkaian acara diskusi dan seniman bicara (artist’s talk) dan juga program panduan tur yang membantu audiens untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang kecenderungan terkini seni rupa global dan konsep yang menyertai karya-karya seniman. Tak tanggung-tanggung, untuk acara diskusi semacam inipun panitia mendatangkan para curator, kritikus dan seniman kenamaan dari seluruh penjuru dunia. Martha Rosenthal, seorang seniman terkemuka dari New York, misalnya, memberikan presentasi dalam satu sesi diskusi mengenai peran seniman dalam membangun dialektika dalam ranah sosial politik. Tema semacam ini tentu saja dulunya tak mampir dalam peristiwa-peristiwa seni yang berorientasi pasar.

Karena reputasinya yang semakin baik, tak heran jika Art Hongkong kali ini menjadi ruang bertemu bagi hampir semua pemain dalam ‘industri’ seni rupa dunia. Tak hanya galeri, seniman dan kolektor, pemain utama dalam ‘pasar dagang’ itu saja, melainkan juga para curator, kritikus, direktur museum, sejarawan seni, dan kelompok lain yang biasa sedikit alergi pada pasar. Pada hari pertama pembukaan saja, ribuan orang mendatangi acara ini, yang dapat dipastikan datang dari seluruh penjuru dunia, mulai dari Kanada hingga Australia. Pada hari berikutnya, masyarakat umum berbondong-bondong datang menyaksikan satu demi satu karya dalam areal pameran, mencari pengalaman estetika baru yang sensasinya berbeda dengan memasuki museum.

Sekarang ini, pasar justru menjadi jawaban terhadap persoalan besar yang dihadapi oleh seni kontemporer ketika ia makin mengarah pada kecenderungan konseptual, dan merentang jarak yang semakin jauh dengan publiknya. Ketika berkembang menjadi industri, dengan pengemasan dan strategi promosi yang baru terhadap seni konseptual dan gagasan dasarnya, maka audiens menjadi lebih mudah untuk dirangkul dan tumbuh bersama dalam infrastruktur dan dinamika seni kontemporer sekarang ini.

Semakin berkembangnya pasar seni rupa juga memberi kesempatan pada kerja jaringan yang semakin besar di seluruh dunia, sehingga setiap galeri ini menampilkan seniman dari penjuru dunia yang lain, lintas benua, lintas ras, lintas budaya. Seni rupa global yang ditampilkan, dalam pandangan personal saya, tak bisa lagi membuat kita benar-benar mengenali—terutama dalam lintasan sekilas—mana yang karya seniman Asia, mana yang Amerika, mana yang Eropa. Semua saling bertemu, menginspirasi, mengapropriasi, menemukan bentuk-bentuk baru yang mempertemukan berbagai kategori yang pada beberapa waktu lalu memang dipercaya ada. Termasuk juga kategori antara pasar dan wacana, yang saya kira semakin tipis jaraknya dalam hal estetika. Pasar dan wacana, dengan demikian, bukanlah dua oposisi yang saling berhadapan, melainkan elemen infrastruktur yang saling menunjang. Konflik yang acap dimunculkan di antara keduanya pun merupakan bagian dari pertumbuhan infrastruktur itu sendiri. (Alia Swastika)

(diunduh dari http://www.facebook.com/photo.php?pid=30754520&id=1450311709#!/notes/alia-swastika/catatan-dari-art-hongkong-2010-ada-pasar-ada-wacana/10150201634420007)

Leave a comment

Cerita Asyik Bob Sick

Minggu, 6 Juni 2010 | 06:22 WIB

Bob Yudhita Agung alias Bob Sick (39) berpameran tunggal dengan tajuk ”Bobvarium” di Srisasanti Arthouse, Kemang, Jakarta Selatan, 26 Mei-26 Juni. Sebagaimana pameran-pameran sebelumnya, sebenarnya sosok Bob—dengan segala cerita dan caranya memandang hidup—terasa lebih mengasyikkan ketimbang lukisannya. Bagaimana bisa?

Kami ngobrol dengan Bob di Srisasanti Arthouse, beberapa saat sebelum pameran. Sosok lelaki ini nyaris tak berubah: tubuh penuh tato, terkesan ringkih, tapi penuh spontanitas dalam melihat kenyataan. Pandangannya kerap mengejutkan.

Malam itu, sekitar pukul 22.00, Bob melukis. Dia memang selalu senang melukis. Wajahnya berbinar saat menghadapi kanvas kosong, beberapa botol cat, serta air dalam gelas plastik.

Dia colek cat hitam dengan kuas dan menggoreskannya pada kanvas. Setelah corat-coret sana-sini, terbentuklah tiga lelaki sedang bersila. Satu orang berkumis, satu berkemeja rapi, satu lagi berkepala pelontos.

Anatomi ketiga sosok itu tak sempurna. Ada yang satu tangannya kecil, kaki meleot, berjari enam, atau kepala agak penyok. Bob cuek saja.

”Hidup ini penuh misteri. Tuhan menciptakan banyak hal aneh, tapi kita menerimanya saja. Kenapa lukisan manusia harus tampak sempurna?” katanya.

Bob berhenti sejenak, berdiri, lalu ambil jarak. Tak lama, dia bergegas mengisi kanvas lagi. Kali ini, muncul bangunan mirip kelenteng. Ada pilar-pilar besar dengan hiasan naga.

Beberapa bidang kanvas dicat warna hijau. Sebagian lagi dibiarkan hitam-putih. Sesekali, tangannya mengobok-obok air dan mencipratkannya ke kanvas sehingga catnya meleleh.

Ketika melukis, Bob seakan tenggelam dalam permainan yang memabukkan. Dia asyik mencolek cat dengan kuas, menggores, mencorat-coret, atau melabur warna. Semuanya dikerjakan dengan gembira, santai, spontan, tanpa beban, dan kadang naif.

Setelah 30 menit beraksi, Bob menyudahi lukisan itu dengan membubuhkan namanya. Dia duduk melepas lelah. Wajahnya sumringah. ”Rasa lega sehabis melukis itu seperti habis masturbasi,” katanya.

Eh, lukisan itu bercerita apa sih? ”Itu tiga orang bersahabat yang ngobrol di kelenteng.”

Ngobrol apa? ”Mungkin soal ipoleksosbudhankam, he-he-he…,” katanya. Bob mengaku tak suka bersekolah zaman Orde Baru karena penuh indoktrinasi. Salah satunya, pelajaran tentang ipoleksosbudhankam: ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan.

Bob sengaja membuat penampilan tiga sosok itu berlainan karena ingin menceritakan, mereka memang berbeda. Tapi, perbedaan tak menghambat ketiganya ngobrol santai di sebuah rumah ibadah.

”Kita mungkin beda agama atau keyakinan, tapi kita harus bisa berdamai dengan siapa saja. Manusia tak bisa hidup sendiri kan.”

Dari mana ide itu muncul? ”Lihat jalanan yang penuh orang. Indonesia punya banyak penduduk yang beda-beda, tapi masih sering bentrok.”

Merdeka

Begitulah, Bob Sick. Seniman lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tahun 1998 itu hadir sebagai sosok unik dalam peta seni rupa Indonesia. Dia menyerahkan seluruh hidupnya untuk jalan kesenian.

Setidaknya tekad itu terlihat dari sekujur tubuhnya yang didedikasikan untuk ekspresi beragam tato. Bahkan, seminggu sebelum kami berjumpa, dia menambahkan satu tato baru lagi. ”Bentuknya tengkorak dan bintang,” katanya sambil menunjuk kepalanya yang kini berambut cepak.

Seniman ini telah melintasi perjalanan panjang dalam kesenian. Sebagaimana para pelukis angkatannya di ISI Yogyakarta, katakanlah seperti Putu Sutawijaya atau Bunga Jeruk, Bob juga berjuang mati-matian untuk meraih tempat di wacana dan pasar. Karyanya mulai diapresiasi sekitar tahun 2007.

Kehidupan dan lukisan Bob dianggap mewakili cara berkesenian yang merdeka. Dia bisa mengambil ide dari mana saja, melukis dengan sekena hati, spontan, gembira, dan nakal. Dirinya dibiarkan larut dalam arus insting petualangan seni yang cair.

Dalam pameran ”Bobvarium”, spirit itu juga kuat terasa. Belasan lukisannya mengangkat obyek beragam: suasana kota, para sahabat, petani, bar, kolam renang, serta sosok beberapa kolektor lukisan. Bidang-bidang kanvas dipenuhi berbagai bentuk, sebagian terasa agak dekoratif, dengan warna-warni cerah.

Bob tak berkeberatan saat disinggung bahwa corak visualnya kini lebih ”manis” dibandingkan dengan karya beberapa tahun lalu yang lebih ekspresif. Mungkin kondisi itu terkait dengan kehidupannya yang kian mapan seiring pasar yang makin menghargai karyanya.

”Saya tak mau mandek dengan satu gaya visual. Berkesenian itu harus terus bergerak bebas,” katanya.

Memang, kebebasan itulah yang menapasi perjalanan hidup dan karya-karyanya. Bagi Ugo Untoro, seniman sahabat Bob di Yogyakarta, kesenimanan Bob menjadi kuat karena dia mengelola bahasa yang tak terduga. Dia bisa ngomong apa saja dengan tetap di kerangka pikirannya. Dia tidak khawatir dikatakan bodoh.

Sikap itu hasil dari bacaan Bob atas apa yang terjadi pada hidup sehari-harinya. ”Itu merupakan keberanian dan sudah jarang ditemui sekarang, ketika para seniman pada ’kontemporer’ semua,” kata Ugo.(ILHAM KHOIRI)

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/06/06221072/cerita.asyik.bob.sick)

Leave a comment

Merespons “Badai” Raden Saleh

Minggu, 30 Mei 2010 | 03:34 WIB

Sebanyak 158 seniman mengikuti pameran bersama ”Manifesto” Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 19-31 Mei, ini. Dengan mengangkat tema ”Percakapan Masa”, pergelaran ini berusaha menyandingkan karya para seniman generasi modern koleksi galeri dengan hasil kerja para perupa kontemporer. Apa yang dihasilkan dari pertemuan itu?

Pameran menampilkan lukisan karya seniman dari tahun 1850-an, tahun 1940-an, hingga tahun 1970-an. Generasi lama itu mencakup, di antaranya, karya Raden Saleh, Basuki Abdulah, Soedjojono, Affandi, Hendra Gunawan, Srihadi Soedarsono, Popo Iskandar, Ahmad Sadali, Nashar, dan Widayat. Karya mereka umumnya berupa lukisan dua dimensi.

Karya-karya itu dijejerkan dengan karya baru dari seniman kontemporer (dalam arti yang bekerja 10 tahun belakangan). Seniman tahun 1990-an sampai tahun 2000-an itu mengusung karya baru lebih menerabas batas, seperti lukisan, patung, grafis, video, dan instalasi. Mereka diwakili, antara lain, oleh Hafiz, Deddy Paw, Rudi St Darma, Erwin Pandu Pranata, Syahrizal Pahlevi, Putut Wahyu Widodo, Bambang ”Toko” Witjaksono, Entang Wiharso, Heri Dono, Nasirun, dan Tisna Sanjaya.

Untuk melihat bagaimana hasil pertemuan itu, mari kita amati bagaimana seniman baru merespons lukisan Raden Saleh. Judulnya ”Badai” berukuran 74 x 97 cm. Karya terkenal buatan tahun 1851 itu menggambarkan pemandangan laut yang diterjang badai. Air laut membuncah tinggi. Satu perahu terombang-ambing di tengah. Satu perahu lagi didorong ombak dan menabrak batu karang. Langit gelap.

Lukisan yang dikerjakan 159 tahun lalu itu masih menggetarkan. Goresan warna-warni murung itu menghadirkan ombak, perahu, langit, dan batu karang dalam amuk badai yang mencekam. Lukisan bergaya romantis ini sangat kuat sebagaimana gaya serupa di Eropa pada masanya.

Respons

Lukisan Raden Saleh tadi direspons beberapa seniman masa kini. Deddy Paw menyajikan lukisan ”Badai Pasti Berlalu, Raden..!” berukuran 180 x 180 cm. Pelukis ini menggambar kembali lukisan badai Raden Saleh mirip aslinya di sudut kanan atas kanvas—seperti bidang insert.

Lukisan laut itu kemudian diteruskan ke bidang-bidang lain. Hanya saja, sosok badai itu telah mereda dan menjelma sebagai laut tenang, biru, dan indah. Pemandangan jadi agak surealis karena tampak menyeruak beberapa buah apel segar.

Dalam karya ini, ”Badai” Raden Saleh terasa menjadi potongan masa lalu yang dicomot begitu saja dan dihadirkan kembali dalam dunia imajinasi masa kini yang bebas. Batasan dimensi ruang dan waktu antara masa lalu dan masa kini sepertinya hanya sebuah permainan.

Semangat serupa juga diusung Hafiz dalam video berjudul ”Berbadai Pun Kemudian”. Image lukisan ”Badai” Raden Saleh ditempelkan secara utuh di dinding berukuran sekitar tiga meter. Lukisan itu kemudian disorot lagi dengan kotak-kotak hitam yang bergerak. Ada suara deru badai bergema dalam ruang itu. Seiring dengan deru yang makin menggebu, kotak-kotak hitam itu juga bergerak lebih cepat. Gambar pemandangan badai laut itu jadi tertutup, tetapi sensasi suasana badai justru lebih kental.

Sensasi itu bukan muncul dari gambar langit menggila dan perahu tergulung ombak. Badai itu justru terasa hadir nyata karena kita mendengar rekaman suara menderu serta pergerakan kotak-kotak hitam seperti angin yang datang menerjang. Di ruang ini, kita seperti dibenturkan pada dua pendekatan berbeda. Raden Saleh memunculkan badai dengan meniru serealis mungkin pemandangan itu, sedangkan Hafiz menghadirkan badai lewat suara dan gerakan video animasi di layar.

Pertemuan tiga karya tadi memperlihatkan pemetaan pendekatan kreatif seniman dalam merepresentasikan kenyataan. Raden Saleh menuangkannya dengan cara mimesis alias meniru alam sepersis mungkin. Kemiripan gambar manual di atas kanvas dengan obyek di alam nyata merupakan pencapaian berharga di tengah keterbatasan teknologi pada abad ke-19.

Zaman kemudian berubah. Teknologi fotografi dan print digital diadopsi sebagai bagian dari pengembangan teknik melukis. Ketika kemiripan itu tak lagi sulit lagi, Deddy Paw berusaha masuk pada tantangan baru, yaitu mengulik gagasan untuk mempermainkan imajinasi.

Hafiz memilih bergerak di ruang audiovisual lebih lengkap. Tak hanya mengandalkan visual yang diam, seniman ini juga mengolah gambar bergerak alias animasi. Unsur suara juga dimasukkan untuk memperkuat efek lebih dramatis.

Interaksi

Interaksi serupa juga terasa pada banyak karya lain. Lukisan kucing Popo Iskandar tahun 1975, misalnya, diolah ulang dalam lukisan bercorak pop penuh teks oleh Rudi St Darma. Berangkat dari kucing pula, Erwin Pandu Pranata membuat mainan mirip kapsul yang digambari mata kucing dan bisa meneriakkan suara ngreek yang keras.

Pada kasus lain, lukisan halaman rumah yang liris karya Nashar (1957) ditanggapi dengan lukisan halaman rumah bergaya ekspresionisme urban oleh Syahrizal Pahlevi. Sementara Putut Wahyu Widodo menampilkan pemandangan hypermall (rumah masyarakat urban) yang gemerlap dan instan.

Semua contoh itu menggambarkan berbagai reaksi para seniman kontemporer terhadap karya seni rupa modern. Sebagian seniman mengambil ikon-ikon lama dan memainkannya dalam adonan baru. Sebagian menyerap pendekatan lama sebagai batu loncatan untuk melihat kenyataan lebih aktual. Sebagian lagi berkarya secara bebas.

Dialog semacam inilah yang menjadi kekuatan pameran ini. Pertemuan karya dari berbagai generasi ini memang merangsang pembacaan berlapis. Seperti dicatat kurator pameran, Rizki A Zaelani, berbagai risalah yang muncul dalam dialog ini mencerminkan manifestasi dari niat, perhatian, dan mood seniman dalam melihat dan menyikapi persoalan hidup. (ILHAM KHOIRI)

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/30/0334138/merespons.badai.raden.saleh)

Leave a comment

Yang Terinterpretasi Masa Lalu

jakarta | Sun 23 May 2010
by : Sjifa Amori

Lukisan Popo Iskandar yang dijuduli Kucing (1975, cat minyak di atas kanvas) termasuk dalam karya penting koleksi Galeri Nasional Indonesia. Lukisan yang menampakkan wujud kucing berbentuk geometris sehingga cenderung imajiner. Apalagi kucing ini didominasi warna hitam dengan sedikit goresan halus putih dan kuning yang berfungsi sebagai garis telinga, kaki, ekor, dan corak belang. Tanpa sapuan tipis garis kuning dan putih yang pendek-pendek ini, positif lukisan Popo adalah sebuah bidang hitam yang bersegi-segi dengan latar warna pastel yang lebih cerah.

Obyek kucing ini digambarkan Popo dengan ekspresif (lewat goresan atau coretan) dengan memperlihatkan emosi pelukisnya (misalnya soal kemisteriusan). Popo memainkan bentuk kucing (secara anatomis), meski masih terlihat seperti kucing dengan ciri khas mata dan gesturnya yang meliuk-liuk.

Kucing mengungkapkan salah satu dari berbagai karakter yang pernah dibuat dengan obyek binatang. Dengan deformasi yang mengandalkan efek-efek goresan yang spontan dan transparan, binatang itu seakan baru bangkit dari tidur dan mengibaskan badannya. Dalam penghayatan obyek-obyeknya, Popo berhasil menampilkan karakter-karakter yang esensial dari obyek-obyek dalam ruang imajiner.

Karya Popo ini kembali dipamerkan di Pameran Besar Seni Rupa Indonesia 2010 yang bertajuk Manifesto: Percakapan Masa di Galeri Nasional Indonesia. Dalam pameran yang dibuka pada Selasa (18/5) dan akan berlangsung hingga Senin (31/5) mendatang ini, Popo tidak sendirian, namun ditemani dengan banyak lagi seniman lain dari masanya dan masa sebelumnya. Juga seniman-seniman setelah eranya.

Makanya, Kucing juga tidak sendirian. Dia ditemani “kucing-kucing” lain yang tersaji dalam bentuk yang lebih kekinian, seperti Play Popo karya Erwin Pandu Pranata (2010, pelat besi, cat, dan komponen elektronik) dan Beyond Act/Koko‘ s Way karya Rudi St. Darma (2010, media campuran di atas kanvas).

Play Popo adalah karya trimatra yang berupa kapsul dari pelat besi berwarna hitam. Kapsul berukuran tinggi 100 cm dan diameter 45 cm ini memiliki mata kucing berwarna biru terlukiskan dengan cat. Sisanya adalah coretan cat warna putih, merah, dan kuning, yang menciptakan karakter kartun sebagai pelengkap wajah kucing. Misalnya alis yang beda warna dan beda letak, juga kumis kucing yang berantakan dan bahkan ada sedikit sapuan telapak kaki kucing, yang menjadikan kapsul ini -secara visual- mirip Doraemon.

Sementara lukisan Rudi St. Darma adalah sebuah karya yang bercirikan garfis dengan keberadaan huruf-huruf tercetak bertuliskan Popo‘ s Way secara repetitif sebagai latar lukisannya. Bahwa lukisan ini adalah hasil sebuah interpretasi dari karya Popo, tercermin dari kode-kode artistik dan gaya Popo yang ia ambil dalam melukis sebentuk makhluk imajiner berwarna hitam (lebih berbentuk ular berkepala dua).

Obyek dalam lukisan Rudi bisa dikaitkan dengan bentuk kucing, hanya jika melihat coretan-coretan cat putih sebagai motif tubuhnya -yang mengingatkan kita pada Kucing-nya Popo. Selain itu, Rudi juga mengadopsi karakter warna Popo yang menaburkan setumpahan warna pastel sebagai latar obyek-obyeknya.

”Saya mengundang seniman untuk berinteraksi sambil menyisipkan atau bahkan menawarkan sikap dan persoalan ”baru” dalam proses dialog mereka dengan karya yang dikerjakan para seniman pendahulu mereka. Rangkaian proses dialog yang saya sebut ‘percakapan’ ini dilakukan masing-masing seniman ini,” kata Kurator pameran Kurator pameran Rizki A. Zaelani dalam sambutannya di pembukaan pameran.

Pameran Manifesto: Percakapan Masa menampilkan karya-karya (lukisan, patung, seni grafis, gambar, obyek, video art, fotografi, dan karya instalasi) yang dikerjakan oleh lebih dari 120 orang peserta yang berasal dari 13 provinsi di Indonesia. Acara ini juga mendisplay karya terbaik koleksi Galeri Nasional Indonesia.

Dalam catatan kurasinya, Rizki mengungkapkan bahwa seniman di masa kini tak hanya menghadapi karya-karya “masa lalu” tersebut sebagai penampakan ragam bentuk dan kecenderungan artistik saja, tetapi juga berbagai manifestasi intensi persoalan yang pernah dibayangkan seniman sebelumnya.

Secara teoritis pengalaman dialog semacam ini hendak menghadapi titik-titik artikulatif penting mengenai berbagai hal pada suatu masa, di masa lalu, ketika pengalaman dan identitas kita pernah digambarkan.

Selain Kucing, lukisan seniman terdahulu yang juga dipilih sebagai bahan dan fokus dialog seniman, antara lain Halaman Rumah (1957) karya Nashar, Kakak dan Adik (1978) karya Basuki Abdullah, Badai (1851) karya Raden Saleh Sjarif Bustaman, Pertemuan (1947) karya Otto Djaja, Tiga Kawan (1962) karya Srihadi Soedarsono, Si Hitam dan Si Putih (1963) karya Danarto.

Karya-karya terbaik koleksi Galeri Nasional Indonesia ini lantas “dibaca” (masing-masing oleh dua seniman) yang kemudian juga memproduksi karya dari hasil “dialog” tersebut.

“Sebagian seniman melakukannya dengan memunculkan kembali tanda-tanda yang telah ada dalam karya-karya sebelumnya itu. Sebagian lain ada yang hanya menjadikannya sebagai jalan masuk pada suatu persoalan. Bahkan seakan mengajak karya dari masa lalu itu supaya berlaku bagi persoalan di masa kini,” kata Rizki.

Bahkan beberapa seniman berupaya menggali lebih dalam lagi intensi penciptaan para seniman di masa lalu menjadi ragam artikulasi artistik dan estetik di masa kini. “Dalam hal ini, baik para seniman maupun para penikmat dan pengamat, saya rasa setuju pada kesimpulan yang diajukan Berger, bahwa segera, setelah kita bisa melihat, kita menjadi sadar bahwa kita juga bisa dilihat”.

Percakapan Masa adalah rangkaian kegiatan dalam rangka perayaan 102 tahun peringatan lahirnya semangat Kebangkitan Nasional Indonesia. Pameran yang juga merupakan salah satu realisasi program Galeri Nasional Indonesia dalam menyambut Visit Museum 2010 ini mengikutsertakan sekitar 200 seniman dari berbagai daerah di Tanah Air.

“Sepanjang tahun perjalanan sejarah inilah, seni rupa berkembang seiring pertumbuhan sikap kesadaran berbangsa sebagaimana diusung perintis seni rupa, di antaranya Raden Saleh, Affandi, Hendra Gunawan. Tema Percakapan Masa, saya pikir, tepat sekaligus inspiratif bagi seniman peserta untuk menunjukkan interaksi pemikiran dan sikap artistik yang berkesinambungan,” kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, dalam sambutannya dalam katalog pameran.

Peresmian pameran disertai dengan acara peluncuran buku atau Katalog Post EventPameran Besar Seni Rupa Indonesia: Manifesto 2008 yang memuat tulisan para kurator, reproduksi karya yang dipamerkan, serta biodata perupa yang berpartisipasi.

Perhelatan ini juga menandai dibukanya Pameran Koleksi Tetap Galeri Nasional Indonesia. Tata letak pameran ini dibagi berdasarkan pemikiran kuratorial, yaitu Pameran Koleksi Sejarah; dari masa perintisan seni rupa modern Indonesia hingga saat ini (Gedung B Ruang B1), Pameran Koleksi Khusus; Lukisan abstrak dan abstraksi di Indonesia (Gedung B Ruang B2), dan Pameran Koleksi Internasional (Gedung C Ruang C2).

Syifa Amori

(diunduh dari http://www.jurnalnasional.com/show/arsip?berita=131682&pagecomment=1&date=2010-5-23)



Leave a comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,559 other followers