Abdul Salam

Judul Karya                    : CONTEMPORARY DANCE , SMUGLING PEOPLE
Tahun                               :  2010 – 2011
Medium/Teknik             :  OIL IN CANVAS

Konsep karya (bisa dalam bentuk lampiran word dokumen) :

TEMA BODY PAINTING

Dalam karya saya ini, bertemakan BODY PAINTING, karena obyek ini saya merasakan mempunyai ekspresi ide dan obyek yang tidak terbatas, dengan berbagai variasi oenuh permainan warna dan bentuk, sehingga saya bisa memanjakan diri dalam berkarya.

Dengan permainan warna, garis, bentuk, serta teknik tanpa batas. Saya merasakan suatu tantangan dengan segala kemampuan yang saya milik, dalam menampilkan tema baru serta warna yang selalu mengikuti suatu perkembangaseni lukis saat ini kontemporer pada umumnya.

Postur tubuh manusia makhluk Tuhan yang paling sempurna, yang begitu indah bentuknya, sehingga lebih menarik untuk dibuat objek dalam berkarya. Permainan gerak, bentuk  serta warna menggambarkan suatu emosional keindahan yang tiada batas, dan tidak akan habis untuk menciptakan suatu karya. Karena manusia diciptakan penuh dengan misteri kepribadian dalam kehidupan di planet ini.

Dengan menampilkan berbagai gerak, karakter tubuh dengan beragam aplikasi, warna serta variasi bentuk fantasi, sehingga sebagai wujud perkembangan kehidupan manusia yang selama ini saya rasakan. Sebagai refleksi  dari kehidupan suatu perkembangan zaman.

Kebebasan berkarya adalah hal yang mutlak diperoleh semua orang untuk mengekspresikan keinginan suatu hasil karya, supaya bisa berperan perspektif tentang seni lukis masa depan.

Hal tersebut menyikapi perkembangan suatu kehidupan saat ini, yang penuh dengan tuntutan suatu perubahan di semua kehidupan.terutama dibidang seni rupa.. sudah jauh berkembang sehingga telah terlampaui kehidupan nyata, orang awam, seolah – olah hidup di alam lain, sehingga mempunyai  inovasi penciptaan di luar kemampuan orang pada umumnya.

Meresapi kehidupan alam lain yang sangat indah dan berinteraksi dengan dunia lain, tapi semua itu berjalan pada suatu kejujuran yang sangat tinggi, tertanam dilubuk hati yang paling dalam. Bagi kehidupan dalam menciptaan menciptakan suatu karya yang berbobot dan penuh dengan idealis serta bisa dipertanggung jawabkan dalam keabsahannya. Itulah duniaku, dunia diatas kehidupan yang ada saat ini.

Gagasan  karya dari tema yang saya ambil betul – betul mewujudkan kemurniaan dalam suatu karya, sehingga dapat menjadikan suatu karya yang mempuntai makna dalam mengekspresikan kebebasab secara luas sesuai dengan tujuan masung – masing dalam menjalankan kelangsungan hidup di bumi ini penuh dengan kebebasan serta di selimuti misteri………………………

Nama    :  ABDUSSALAM (ABDUL SALAM)
Alamat : PONDOK MAS IV NO. 42 RT. 007/001 LEUWI GAJAH -  CIMAHI, JAWA BARAT
Tel/Fax :  081394612890
e-mail : Abdus_77@yahoo.com : Abdussalam_paint@yahoo.com

Benarkah Kamu

DI Ruang Pameran TIM, pelukis kawakan Baharuddin mengingatkan orang kembali pada dedengkot surealisme: Andre Breton. Pelopor ini pernah membuat manifesto yang berbunyi: “Surealisme adalah satu bentuk “psikis-otomatis” yang memungkinkan orang secara lisan atau tulisan, atau dengan cara lain, menyampaikan cara bekerja yang sebenarnya dari suatu proses fikiran. Suatu diklat dari pemikiran, tanpa kontrol rasionil, bebas dari prasangka estetis atau moral”. Waktu berlangsung pameran lukisan antar Gelanggang Remaja Jakarta 9 s/d 15 Juni — di ruang pameran itu 50 pelukis remaja dari 3 gelanggang (Utara, Selatan dan Pusat) dengan hampir 100 karya rata-rata memang dibetot oleh demam surealisme. 5 orang di antaranya, melalui penilikan para juri (Baharuddin, Suparto dan Danarto) ditetapkan berhak mengantongi hadiah. Mereka menurut urutan ke juaraan, adalah Kamso (dengan karya Karangbolong) Abdul Salam (Kehidupan), Joko Tri (Tehnologi), Noor Hasyim Yuari (Lanskap), Muchlis (Komposisi). Salvador Dali Baharuddin telah menulis pengantar yang bagus untuk pelukis-pelukis muda ini. Seakan orang tua ini ingin mempertanyakan secara halus adakah surealisme yang dibetot lukisan-lukisan anak muda itu berpijak pada kebutuhan jiwa, atau hanya sekedar mode. Baharuddin menjelaskan bahwa cara berfikir telah berkembang dalam saluran kepercayaan pendidikan, kebiasaan dan moral. Tapi cara berfikir intelektualistis itu bisa berhenti. Misalnya pada saat orang bermimpi. Lalu berlangsunglah kejadian yang absurd alias tidak logis. “Tapi pelukis surealis tidak akan melukis apa yang disaksikannya dalam mimpi. Ia mempergunakan proses mimpi itu untuk menggambarkan situasi-situasi luar biasa atau pertentangan-pertentangan dari objek-objek dalam suasana-suasana irasionil” tulis Baharuddin. Dari sana, Baharuddin menyimpulkan bahwa bagi seorang penganut surealisme, imaji-imaji irasionil justru sangat penting untuk melukiskannya kembali secara realistis dan eksak dalam teknik melukis yang perfek. Contoh yang tepat untuk ini memang seorang pelukis seperti Rene Margritte (1898) yang melukis dengan teknik realis tetapi dilumuri imaji-imaji yang sangat menyimpang dari hukum-hukum logika. Juga ­disebut-sebutnya Salvador Dali (1904) serta pelukis Jerman Max Ernst (1891) yang sama-sama mengerikan itu. Para pelukis muda itu tidak sempat menjawab. Barangkali juga memang tidak perlu. Tetapi suara yang keluar dari lukisan mereka barangkali bisa didengarkan.

Kita lihat misalnya hasil seorang pemenang: Abdul Salam dari Gelanggang Remaja Jakarta Selatan, dengan judul judul Kehilupan dan Bunga. Anak muda ini memiliki teknik yang baik. Ia kaya dan penuh perhitungan. Kanvasnya menyarankan perenungan dan keinginan melontarkan sesuatu tidak hanya sekedar mencapai bentuk-bentuk artistik. Para juri juga menilai karyanya sebagai tekun, teliti dan bersih. Tapi karya Salam seperti memberi jawaban, bahwa tidak selamanya akar surealisme harus dicari pada manifesto Brenton. Lukisannya lebih merupakan penerus dari jiwa dongeng yang berasal dari cerita-cerita sebelum tidur. Ia memasuki fantasi, dan ia merasa bebas bekerja tanpa hukum-hukum logika. Orang Barat menamakan ini ‘surealis’ – tapi seorang pribumi macam Salam mungkin lebih suka mengatakan ini sebagai ‘gambaran batin’. Garajas Tentu tidak salah kalau orang harus mencari kiblat pada orang-orang tersohor di mancanegara, karena literatur juga memang banyak berasal dari sana. Pun memang banyak pelukis yang berjuang menurut urutan tangga sebagaimana yang ditetapkan definisi-definisi dalam literatur itu. Tetapi alangkah lucunya untuk selalu menganggap bahwa akar senirupa Indonesia adalah manifesto atau karya puncak seniman lain. Karena bukan tidak mungkin, sebagian pelukis muda yang melukis surealis itu tidak benar-benar tahu apa yang dikatakan Andre Breton. Mereka memang bisa dituduh sebagai pengekor. Tetapi bagaimana kalau mereka juga mengatakan bahwa mereka tidak pernah melihat karya Dali, Margritte, Delvo Chagall dan sebagainya. Apakah kita akan tidak percaya – artinya akan selalu kita sangsikan kemungkinan itu. Yang menarik lagi dalam pameran di samping kemajuan-kemajuan sebagai mana dinyatakan para Juri: para pemenang berasal dari Gelanggang Remaja Jakarta Selatan. Gelanggang ini boleh bangga sekarang, karena tahun lalu pun mereka muncul sebagai pemborong. Ini tentunya tidak terlepas dari adanya sebuah sanggar di sana, bernama “Garazas”, yang tekun dan rajin menyelenggarakan latihan serta pameran setempat.

About these ads
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,559 other followers

%d bloggers like this: