Seni Gambar yang Mandiri

Di antara berbagai pameran yang ramai di Jakarta, rasanya perlu dicatat pameran ”Indonesia Contemporary Drawing” yang diselenggarakan oleh Andi’s Gallery di Galeri Nasional Jakarta, 16-24 Juni 2009.

Pameran ini cukup unik dalam banyak hal. Bisa dicatat, antara lain, di antara begitu banyak pameran, jarang terselenggara pameran drawing alias ”seni gambar”. Apa itu seni gambar? Seni gambar biasanya diasosiasikan dengan suatu teknik yang berhubungan dengan persiapan (preparatory) bagi karya yang lain yang bersifat final, entah patung atau lukisan. Meskipun, dalam konteks Indonesia, seperti disebut kurator duo Asmudjo Jono Irianto dan Hardiman, istilah gambar di sini menduduki posisi penting. Sebelum istilah seni atau seni lukis dipergunakan dan populer, gambar merupakan istilah yang kerap digunakan untuk menunjuk beragam seni rupa dua dimensi. Ingat Persagi, yang merupakan singkatan Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia.

Lalu, dengan pengertian itu, seni gambar pun mendapat pengertian yang longgar, misalnya tak sekadar pengertian penggunaan alat, taruhlah arang atau charcoal. Dalam pameran ini, tak sedikit perupa yang menggunakan medium campuran, dari akrilik sampai cat minyak. Yang jadi acuan rupanya lebih ke teknik.

Soal banyaknya perupa yang tampil juga keunikan tersendiri. Sekitar 50 perupa ambil bagian. Mereka berasal dari Bandung, Yogyakarta, Bali (dari tiga kota itu sebagian besar peserta), ditambah dari Jakarta, Semarang, dan Malang. Selain unik, banyaknya peserta ini kemudian membawa implikasi jeda sangat luas dari segi capaian teknis masing-masing peserta: sederhananya, dari yang ”top” banget sampai yang biasa-biasa saja.

Penyelenggara pameran agaknya sudah sadar soal itu. Dari segi penempatan sudah jelas, mana yang hendak mereka tonjolkan. Begitu masuk ruang, kita dihadang oleh karya perupa Ronald Manulang, ”Self Potrait”, yang tak bisa disangkal kepiawaian teknisnya. Wajah berkacamata hitam dengan jambang dan kumis itu sangat sempurna, sampai orang melihat ada yang memeleng-melengkan kepala, ini gambar atau foto. Itulah kehebatan Manulang.

Di ruang khusus yang juga layaknya untuk memajang karya spesial, dipilih karya RE Hartanto, tanpa judul. Menggambarkan wajah yang seperti terbias cahaya, perupa dari Bandung ini tak hanya menegaskan kepiawaian teknik, tapi juga aktualitas gagasan.

Dua yang dicontohkan di atas untuk mewakili karya-karya menonjol yang lain, seperti dari Srihadi Soedarsono, Pramuhendra, Hilman Hendarsyah, Dewa Gede Ratayoga, Agus Cahaya, Nus Salomo, dan tentu masih ada beberapa lagi kalau kita lebih cermat.

Yang jelas, dari semua karya di situ, seni gambar telah menjadi karya yang final, selesai, bukan lagi sebuah persiapan untuk karya yang lain. Dia menjadi karya yang mandiri, sekaligus memberi kemungkinan-kemungkinan baru di ranah seni kontemporer, yang perupaan dan medium diterima secara serentak. (BRE REDANA)

(diunduh dari http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/28/03080726/seni.gambar.yang.mandiri)

About these ads
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,562 other followers

%d bloggers like this: